Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

BMKG Rilis Peringatan: Dua Bibit Siklon Ancam Picu Cuaca Ekstrem di Indonesia

2026-01-15 | 18:48 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-15T11:48:38Z
Ruang Iklan

BMKG Rilis Peringatan: Dua Bibit Siklon Ancam Picu Cuaca Ekstrem di Indonesia

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan deteksi dua bibit siklon tropis, 96S di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Barat dan 91W di Laut Filipina utara Maluku Utara, yang memicu potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi di sejumlah wilayah Indonesia hingga setidaknya Jumat, 16 Januari 2026. Deteksi ini mendorong peringatan dini bagi masyarakat di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Gorontalo, Maluku Utara, dan Sulawesi Utara agar meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman hidrometeorologi.

Bibit Siklon Tropis 96S, yang terpantau mulai terbentuk pada 14 Januari 2026 pukul 14.00 WITA, berlokasi di sekitar 13.6 derajat Lintang Selatan dan 117.3 derajat Bujur Timur. Sistem ini memiliki kecepatan angin maksimum 20 knot atau sekitar 37 kilometer per jam dengan tekanan minimum 1002 hektopascal. Cahyo Nugroho, Kepala Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III, menjelaskan bahwa bibit 96S diprakirakan bergerak ke arah barat daya, menjauhi wilayah Indonesia dalam 24 jam ke depan, namun dampak tidak langsungnya tetap terasa signifikan. Dampak tidak langsung dari 96S termasuk potensi hujan sedang hingga lebat di Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat. Selain itu, bibit ini juga memicu gelombang tinggi hingga 2,5 meter di Selat Lombok dan Selat Bali, serta gelombang setinggi empat meter di Samudra Hindia selatan Jawa Timur hingga selatan Nusa Tenggara Timur.

Sementara itu, Bibit Siklon Tropis 91W telah terdeteksi sejak 11 Januari 2026 pukul 18.00 UTC (12 Januari 2026 pukul 01.00 WIB) di Samudra Pasifik utara Papua, tepatnya di sekitar 9.4 derajat Lintang Utara dan 129.4 derajat Bujur Timur di Laut Filipina utara Maluku Utara. Bibit 91W menunjukkan kecepatan angin maksimum 30 knot (56 km/jam) dengan tekanan minimum 1002 hektopascal. Berbeda dengan 96S, Bibit 91W memiliki peluang tinggi untuk berkembang menjadi siklon tropis penuh, meskipun diprakirakan akan bergerak ke arah barat laut, menjauhi wilayah Indonesia. Muhammad Rizky, seorang prakirawan BMKG, mengungkapkan bahwa sistem cuaca ini menunjukkan tren peningkatan intensitas. Dampak tidak langsung dari 91W diperkirakan menyebabkan hujan sedang hingga lebat di Gorontalo, Maluku Utara, dan Sulawesi Utara. Gelombang tinggi 1,25 hingga 2,5 meter diprediksi terjadi di Laut Sulawesi bagian timur, Laut Maluku, perairan Bitung, Sangihe, Manokwari utara, Raja Ampat utara, Biak utara, serta Samudra Pasifik utara Papua. Potensi gelombang lebih tinggi, mencapai 2,5 hingga 4 meter, juga diwaspadai di perairan Kepulauan Talaud dan Samudra Pasifik utara Maluku.

Bibit siklon tropis merupakan tahap awal pembentukan sistem tekanan rendah non-frontal berskala sinoptik yang ditandai oleh sirkulasi angin terorganisir, hujan lebat, dan angin kencang. Meskipun kedua bibit ini berpeluang rendah hingga tinggi untuk berkembang menjadi siklon tropis penuh, BMKG menegaskan bahwa dampaknya terhadap cuaca dan perairan di Indonesia perlu diwaspadai. Indonesia, sebagai negara kepulauan, sering mengalami dampak tidak langsung dari pembentukan siklon tropis di kawasan Pasifik dan Hindia. Pusat Peringatan Siklon Tropis (TCWC) Jakarta di bawah BMKG secara rutin memantau perkembangan sistem-sistem ini 24 jam sehari menggunakan teknologi satelit dan radar untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat.

Kondisi atmosfer di Indonesia pada awal 2026 memang menunjukkan dinamika yang mendukung terbentuknya hujan lebat. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, sebelumnya telah menjelaskan bahwa suhu muka laut yang relatif hangat di sebagian perairan Indonesia menjadikan wilayah ini sebagai "mesin uap" pembentuk awan konvektif tinggi, diperparah oleh anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik dan Hindia. Puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Januari 2026, dengan wilayah seperti Sumatra bagian selatan, Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Papua bagian selatan, serta sebagian Sulawesi Selatan berpotensi mengalami curah hujan tinggi hingga sangat tinggi. Kombinasi faktor seperti Madden-Julian Oscillation (MJO) aktif, Gelombang Kelvin, dan Gelombang Rossby Ekuator juga berkontribusi pada peningkatan aktivitas konvektif.

Ancaman bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor meningkat seiring dengan intensitas hujan. Masyarakat di daerah rawan diimbau untuk memantau informasi cuaca resmi melalui kanal BMKG, membatasi aktivitas luar ruangan saat hujan lebat, serta mempersiapkan lingkungan rumah seperti membersihkan saluran air. Kesiapsiagaan kolektif menghadapi potensi bencana hidrometeorologi dan cuaca ekstrem adalah kunci untuk meminimalisir dampak yang ditimbulkan.