
Generasi Z, kelompok demografi yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, semakin banyak beralih kepada ramalan tarot sebagai cara untuk mengatasi kegelisahan dan mencari arah di tengah ketidakpastian hidup. Fenomena ini, yang marak di platform media sosial seperti TikTok dan Instagram, mencerminkan pergeseran dalam pencarian spiritualitas dan mekanisme koping di kalangan anak muda. Psikolog klinis Universitas Airlangga, Dian Kartika Amelia, M.Psi., mengidentifikasi bahwa tekanan hidup, ketidakpastian masa depan, dan persoalan pribadi menjadi pendorong utama di balik popularitas tarot ini.
Tarot, yang sebelumnya kerap dianggap mistis, kini dipandang sebagai alat refleksi diri dan pencarian ketenangan. Amelia menjelaskan bahwa ketika Gen Z menghadapi situasi tidak menyenangkan dan merasa tidak berdaya, mereka mencari penjelasan eksternal atas apa yang dialami. Tarot diharapkan dapat memberikan rasa tenang. Pembacaan tarot juga mampu memunculkan khayalan seolah individu bisa memprediksi atau memahami kejadian dalam hidupnya, sehingga berpotensi menurunkan kecemasan dan berfungsi sebagai mekanisme koping sementara. Selain itu, tarot menawarkan narasi tentang diri tanpa penghakiman, sebuah aspek yang menarik bagi generasi ini.
Data dari survei Oliver Wyman Forum pada September 2020 menunjukkan bahwa 83 persen Gen Z di Amerika Serikat dan Inggris percaya astrologi telah membantu mereka memperbaiki kehidupan serta memahami diri sendiri dan orang lain. Studi yang sama juga menemukan kurang dari 30 persen responden Gen Z (usia 18-25 tahun) menyatakan percaya pada Tuhan, mengindikasikan pergeseran dari agama tradisional menuju spiritualitas yang lebih personal dan fleksibel. Psikolog Klinis dr. Andrabrosh turut menyatakan bahwa menjadi dewasa muda saat ini sangat berat, dengan tekanan untuk memiliki hidup terencana, tetap produktif, dan terlihat baik-baik saja meskipun tidak demikian.
Media sosial memainkan peran krusial dalam menyebarkan tren ini. Tagar seperti #TarotReading atau #DailyTarot memiliki jutaan tampilan di TikTok, dengan konten yang seringkali diiringi musik menenangkan dan visual estetik yang menarik perhatian Gen Z. Aplikasi astrologi seperti Co-Star dan The Pattern, yang mengklaim menggabungkan data NASA dengan interpretasi astrologi, juga mengalami lonjakan pengguna signifikan, dari 7,5 juta pada tahun 2020 menjadi 30 juta pada tahun 2023. Keterpaparan konstan terhadap citra ideal dan perbandingan sosial di media sosial dapat memperparah kecemasan dan ketidakamanan diri pada Gen Z.
Meskipun tarot dapat berfungsi sebagai pendorong evaluasi diri yang positif, Dian Kartika Amelia mengingatkan akan potensi risiko. Ketergantungan berlebihan pada ramalan tarot dapat mengarah pada fenomena self-fulfilling prophecy, di mana individu berhenti berupaya memperbaiki kondisi dirinya karena merasa segala sesuatu telah ditakdirkan. Keyakinan terhadap suatu prediksi dapat memengaruhi perilaku individu sehingga tanpa disadari mereka justru mengarahkan dirinya pada hasil yang diyakini sejak awal. Jika tarot menghambat pemecahan masalah dan evaluasi diri, hal itu justru bisa menjadi peringatan. Untuk menghadapi krisis emosional yang tidak dapat ditangani sendiri, Dian menyarankan untuk mencari penanganan profesional dari psikolog atau psikiater. Pergeseran menuju spiritualitas personal, meskipun menawarkan kenyamanan, memerlukan keseimbangan agar tidak mengikis upaya aktif dalam menghadapi tantangan hidup.