Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Hikmah Isra Miraj: Menguatkan Ibadah Rutin dalam Kesibukan Modern

2026-01-14 | 23:16 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-14T16:16:26Z
Ruang Iklan

Hikmah Isra Miraj: Menguatkan Ibadah Rutin dalam Kesibukan Modern

Berada di tengah pusaran rutinitas global yang menuntut efisiensi dan kecepatan, umat Islam menghadapi tantangan signifikan dalam menjaga kualitas ibadah harian, khususnya salat, sebagai inti ajaran yang diterima langsung Nabi Muhammad SAW melalui peristiwa Isra Miraj. Peristiwa monumental yang terjadi pada tahun ke-10 kenabian, sekitar 621 Masehi, ini tidak hanya merekam perjalanan fisik dan spiritual Rasulullah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan Mi'raj ke Sidratul Muntaha, tetapi juga menegaskan salat sebagai "oleh-oleh" terbesar yang mengatur relasi ilahiah dan insaniyyah.

Namun, data terbaru menunjukkan adanya disparitas antara pengakuan keimanan dan praktik ibadah. Sebuah survei Indonesia Moslem Report pada tahun 2019 mengungkapkan bahwa hanya 38,9% umat Muslim di Indonesia yang secara rutin menunaikan salat lima waktu. Dari angka tersebut, hanya 2% yang selalu salat berjamaah, sementara 0,4% dilaporkan tidak pernah salat. Azzam Mujahid Izzulhaq, Founder dan CEO AMI Group, menyoroti bahwa ini berarti enam dari sepuluh Muslim masih "bolong-bolong" dalam melaksanakan kewajiban ini, dengan kecenderungan generasi muda (Gen Z dan milenial) lebih sering lalai dibandingkan generasi yang lebih tua. Kondisi ini mengindikasikan bahwa salat, yang seharusnya menjadi fondasi keimanan dan pembentuk karakter, kerap tereduksi menjadi rutinitas tanpa ruh di tengah tekanan kesibukan duniawi.

Para ulama dan ahli tafsir menekankan bahwa Isra Miraj mengajarkan salat bukan sekadar gerak dan ucapan, melainkan komunikasi langsung antara hamba dengan Allah SWT, yang menuntut kekhusyukan dan pemahaman makna. Dr. Saiful Bahri, Kaprodi Doktor Manajemen Pendidikan Islam Universitas Muhammadiyah Jakarta, menjelaskan bahwa inti peristiwa Isra Miraj adalah kewajiban salat yang tidak dapat diwakilkan dan harus dimaknai esensinya, bukan hanya gerakannya. Prof. KH. Ahsin Sakho, Pakar Ilmu Al-Qur'an, menambahkan bahwa meskipun bentuk salat telah ada sejak nabi-nabi terdahulu, salat lima waktu yang diterima Nabi Muhammad SAW memiliki esensi doa yang sama, namun dengan tata cara yang spesifik dan terperinci.

Implikasi dari rendahnya kualitas dan konsistensi ibadah ini meluas melampaui ranah spiritual individu. Ketika salat dipisahkan dari urusan kehidupan sehari-hari, seseorang cenderung terjebak dalam sekularisasi praktik ibadah, di mana tindakan kejahatan tetap terjadi meskipun seseorang salat. Ini menyoroti fenomena yang digambarkan Nabi Muhammad SAW mengenai "generasi yang menyia-nyiakan salat dan terbawa oleh nafsunya," yang akan menemui kesulitan dan krisis multidimensi. Nurul Huda, dalam tausiyahnya, menegaskan bahwa kualitas salat sangat bergantung pada ketulusan dan kekhusyukan hati, menjadikannya sarana penting untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Meningkatkan kualitas ibadah harian menuntut refleksi mendalam dari hikmah Isra Miraj. Para ahli menyarankan beberapa strategi. Pertama, mendalami makna Isra Miraj dan relevansinya dengan salat untuk mendapatkan perspektif yang lebih dalam tentang pentingnya ibadah. Kedua, memperbaiki kekhusyukan dalam ibadah dengan memusatkan pikiran dan hati, menghindari gangguan, serta merenungkan makna setiap bacaan. Hal ini termasuk menyempurnakan wudu dengan memahami makna dan hikmahnya, serta tidak tergesa-gesa dalam setiap gerakan salat. Ketiga, menjadikan salat sebagai kebutuhan spiritual, bukan hanya kewajiban. Keempat, meningkatkan konsistensi ibadah melalui pengaturan waktu yang efektif dan menciptakan lingkungan yang kondusif. Kelima, memperbanyak doa dan zikir sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Isra Miraj bukan hanya peristiwa masa lalu, melainkan pengingat abadi tentang urgensi salat sebagai penentu kualitas keimanan dan pilar kehidupan. Para ulama mendorong umat Islam untuk merefleksikan kualitas salat mereka, mencakup tidak hanya aspek jumlah, tetapi juga kekhusyukan dan pemahaman. Peristiwa ini adalah ajakan untuk memandang ibadah bukan sebagai beban, melainkan sebagai energi spiritual yang transformatif, membangun peradaban manusia yang berlandaskan kasih sayang.