:strip_icc()/kly-media-production/medias/5158368/original/097065700_1741665044-kata-kata-isra-miraj.jpg)
Peristiwa Isra Miraj, perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan kemudian naik ke Sidratul Muntaha, terus menjadi landasan fundamental dalam memahami makna kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT bagi umat Islam global. Mukjizat yang terjadi pada periode 'Amul Huzni (Tahun Kesedihan), sekitar tahun kesepuluh kenabian, ini secara teologis menegaskan bahwa inisiatif kedekatan datang dari Allah untuk menguatkan hamba-Nya di tengah cobaan berat. Insiden ini, yang diperingati setiap 27 Rajab, bukan sekadar narasi historis, melainkan sebuah manifestasi derajat penghambaan tertinggi yang membuahkan kemuliaan spiritual, sebagaimana dijelaskan oleh sejumlah ulama dan studi ilmiah.
Secara historis, Isra adalah perjalanan horizontal Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem dengan mengendarai Buraq, sejenis hewan supercepat. Di Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad SAW mengimami salat para nabi terdahulu, sebuah simbol kepemimpinan dan penyempurnaan risalah. Selanjutnya, Miraj adalah perjalanan vertikal Nabi dari Masjidil Aqsa menembus tujuh lapis langit hingga Sidratul Muntaha, tempat tertinggi yang hanya bisa dicapai oleh beliau, untuk menghadap langsung kepada Allah SWT. Selama perjalanan Miraj, Nabi bertemu dengan para nabi sebelumnya di setiap lapisan langit, seperti Nabi Adam di langit pertama, Nabi Isa dan Yahya di langit kedua, hingga Nabi Ibrahim di langit ketujuh. Klimaks dari perjalanan ini adalah perintah salat lima waktu secara langsung dari Allah, tanpa perantara Jibril, yang awalnya 50 waktu sebelum diringankan menjadi lima waktu atas saran Nabi Musa.
Kedekatan hamba dengan Allah dalam Isra Miraj diwujudkan melalui beberapa aspek krusial. Pertama, penggunaan lafaz "bi'abdihi" (hamba-Nya) dalam Surah Al-Isra ayat 1, menegaskan bahwa yang diangkat dalam perjalanan agung itu adalah kualitas kehambaan Rasulullah SAW. Menteri Agama RI Nasaruddin Umar pada Januari 2026 menegaskan bahwa Isra Miraj bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan pengalaman rohani tertinggi seorang hamba dalam kedekatan maksimal dengan Allah SWT. Ia menambahkan bahwa kehambaan inilah kunci perjalanan Isra Miraj.
Kedua, peristiwa ini terjadi pada malam hari, yang secara spiritual dipandang sebagai waktu paling tenang dan jernih untuk perjalanan batin. Malam memfasilitasi kekhusyukan, kepasrahan (tawakkal), dan kedekatan (taqarrub) kepada Allah. Menag Nasaruddin Umar juga menjelaskan bahwa salat disebut sebagai mi'raj bagi orang beriman karena di situlah ruh berkomunikasi langsung dengan Allah.
Ketiga, perintah salat lima waktu yang diterima langsung menjadi inti dari makna kedekatan ini. Salat adalah tiang agama dan sarana komunikasi langsung antara hamba dan Allah SWT. Syeikh Abdurrahman Jaber, penceramah internasional asal Madinah, dalam Tabligh Akbar peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah pada 9 Januari 2026, menekankan pentingnya salat sebagai fondasi keimanan dan pembentuk karakter, yang berdampak pada sikap dan perilaku sehari-hari, melahirkan kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Salat melatih umat Islam untuk senantiasa menjaga komunikasi dengan Sang Pencipta dan tidak hanya bergantung pada kekuatan fisik atau materi, melainkan memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT.
Dalam konteks kontemporer, relevansi Isra Miraj tetap kuat di tengah tantangan globalisasi dan modernisasi. Peristiwa ini mengajarkan umat Islam untuk teguh memegang prinsip agama, menjadikan iman yang kuat sebagai landasan utama dalam menjalani kehidupan. Ustadz Hamdi Mahdi, Ketua Fatwa MUI Touna, pada Januari 2025 menyatakan bahwa Isra Miraj mengingatkan umat Islam untuk istiqamah dalam beribadah dan menjaga keimanan di tengah godaan duniawi, serta mengoptimalkan teknologi untuk mendalami ajaran Islam tanpa melupakan nilai-nilai spiritual.
Meskipun ada perdebatan di kalangan ulama mengenai apakah Nabi Muhammad SAW melihat Allah dengan mata kepala sendiri atau tidak, mayoritas ulama Ahlus Sunnah meyakini bahwa perjalanan Isra Miraj dilakukan dengan ruh dan jasad dalam keadaan sadar, menegaskan kebesaran dan kekuasaan Allah yang melampaui batas akal manusia. Yusuf Qardhawi menyatakan bahwa Isra Miraj adalah mukjizat yang Allah tunjukkan sebagai tanda-tanda eksistensi dan kebesaran-Nya.
Implikasi jangka panjang dari Isra Miraj adalah penekanan pada pengembangan karakter dan moral umat. Dengan menjalankan salat secara konsisten, umat Islam didorong untuk membangun disiplin, ketekunan, dan kesadaran spiritual yang tinggi, sejalan dengan prinsip Islam berkemajuan yang mengintegrasikan nilai-nilai agama dalam kehidupan pribadi dan sosial. Peringatan Isra Miraj diharapkan menjadi momentum introspeksi untuk memperbaiki kualitas ibadah dan meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam keluarga, lingkungan, dan masyarakat, mengedepankan kejujuran, kesabaran, dan kepedulian sosial.