Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Inovasi Doktor UNS: Desain Toilet Kereta Api Aksesibel untuk Disabilitas

2026-01-22 | 18:43 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-22T11:43:46Z
Ruang Iklan

Inovasi Doktor UNS: Desain Toilet Kereta Api Aksesibel untuk Disabilitas

Penelitian doktoral di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta baru-baru ini menghasilkan desain interior toilet kereta api yang ramah disabilitas, berpotensi mengubah standar aksesibilitas transportasi publik bagi jutaan penyandang disabilitas di Indonesia. Dr. Akh. Sokhibi, mahasiswa Program Doktor Teknik Industri Fakultas Teknik UNS, mengembangkan desain ini sebagai bagian dari disertasinya, mengintegrasikan prinsip desain universal dan kearifan lokal Jawa. Inovasi ini muncul di tengah kondisi toilet kereta api yang seringkali tidak memadai, menghadirkan tantangan signifikan bagi kenyamanan dan mobilitas penumpang berkebutuhan khusus.

Isu aksesibilitas fasilitas publik, termasuk transportasi, telah lama menjadi perhatian serius di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 menunjukkan terdapat sekitar 22,97 juta penyandang disabilitas, atau sekitar 8,5% dari total populasi Indonesia. Sementara itu, Survei Ekonomi Nasional (Susenas) 2020 mencatat angka yang lebih tinggi, yaitu 28,05 juta penyandang disabilitas, setara dengan 10,38% populasi nasional, menempatkan Indonesia pada prevalensi disabilitas tertinggi di Asia Tenggara menurut UNESCAP. Meskipun Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas mewajibkan pemerintah menyediakan pelayanan transportasi publik yang mudah diakses, serta Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 98 Tahun 2017 secara spesifik mengatur aksesibilitas dalam pelayanan jasa transportasi publik, implementasi di lapangan masih menghadapi kendala.

Pengguna kursi roda dan penyandang disabilitas lainnya kerap kesulitan mengakses toilet di dalam kereta api karena dimensi ruang yang sempit, pintu yang tidak memadai, dan ketiadaan fasilitas pendukung. "Toilet di sebagian rest area dan toilet di dalam moda transportasi tidak dapat digunakan oleh pengguna kursi roda. Ini sangat menyulitkan," ungkap Catur Sigit Nugroho, seorang pengguna kursi roda dan koordinator Gerakan Mudik Ramah Anak dan Disabilitas. Situasi ini mendasari urgensi penelitian Dr. Sokhibi, yang disertasinya berjudul "Desain Toilet Kereta Api Eksekutif yang Aksesibel Berbasis Desain Universal dan Kearifan Lokal."

Desain yang diusulkan oleh Dr. Sokhibi mencakup fitur-fitur penting yang mengedepankan keamanan dan kenyamanan semua penumpang, termasuk pengguna kursi roda, lansia, dan penumpang umum. Fitur-fitur tersebut meliputi dimensi ruang yang lebih luas, pintu geser otomatis, keran dan pengering tangan otomatis, pegangan rambat, lantai antiselip, posisi tombol bilas yang mudah dijangkau di samping, petunjuk dengan huruf Braille, dan saklar lampu darurat. Selain fungsionalitas universal, desain ini juga mengadopsi elemen kearifan lokal Jawa melalui penggunaan warna coklat, panel bermotif serat kayu, ornamen ukiran bercorak batik, serta bentuk ruangan yang terinspirasi filosofi rumah adat joglo. Aspek budaya ini bertujuan meningkatkan kenyamanan, memberikan pengalaman emosional, dan menumbuhkan kebanggaan terhadap budaya lokal.

Pengembangan desain ini diharapkan dapat menjadi standar baru bagi PT Industri Kereta Api (INKA) dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) dalam merancang toilet gerbong kereta api di masa mendatang. Universitas Sebelas Maret sendiri menunjukkan komitmen kuat terhadap inklusivitas, terbukti dengan penghargaan yang diraih dari Komisi Nasional Disabilitas (KND) Republik Indonesia atas inisiatif "UNS Inclusion Metric". Langkah progresif dari dunia akademisi ini menawarkan solusi konkret untuk mengatasi kesenjangan aksesibilitas yang telah berlangsung lama. Implikasi jangka panjang dari penerapan desain ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas layanan transportasi kereta api, tetapi juga mendorong PT KAI untuk memenuhi hak-hak penyandang disabilitas secara penuh, sejalan dengan amanat undang-undang dan tujuan pembangunan berkelanjutan untuk menyediakan akses transportasi bagi kelompok rentan. Hal ini akan menandai kemajuan signifikan dalam mewujudkan transportasi publik yang benar-benar inklusif di Indonesia.