
Ribuan siswa sekolah dasar dan menengah pertama di Jawa Barat akan mengikuti pemetaan kompetensi matematika yang digagas oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Februari 2026. Inisiatif strategis ini bertujuan untuk mendiagnosis tingkat penguasaan matematika siswa, memberikan umpan balik bagi sekolah, serta menjadi fondasi bagi perumusan kebijakan pendidikan berbasis data di wilayah tersebut. Sebanyak 6.840 siswa dari lima wilayah Cekungan Bandung – Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bandung, Kabupaten Sumedang, Kota Bandung, dan Kota Cimahi – akan menjadi sampel dalam asesmen ini.
Pemetaan kompetensi matematika ini dijadwalkan berlangsung pada 3-4 Februari 2026 untuk jenjang SMP sederajat dan 10-11 Februari 2026 untuk jenjang SD sederajat. Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB sekaligus Ketua Senat Akademik ITB, Prof. Edy Tri Baskoro, menjelaskan bahwa pemetaan ini dirancang untuk mengidentifikasi capaian kompetensi siswa dalam lima pilar utama: pemahaman konsep, kefasihan penerapan prosedur, kemampuan berpikir logis dan bernalar, pemecahan masalah, serta komunikasi dan representasi matematika. "Pemetaan ini bersifat diagnostik untuk melihat capaian kompetensi siswa, reflektif untuk memberikan umpan balik kepada siswa dan sekolah, serta menghasilkan policy brief berbasis data bagi pemerintah daerah dan Dinas Pendidikan," ujar Prof. Edy Tri Baskoro dalam Rapat Koordinasi di Kantor Disdik Jabar, Kota Bandung, pada 20 Januari 2026.
Berbeda dengan Tes Kompetensi Akademik (TKA) yang diterapkan secara nasional oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk siswa SD dan SMP yang bersifat opsional dan dapat digunakan sebagai syarat seleksi masuk sekolah unggulan, pemetaan ITB ini menggunakan metode berbasis sampel yang menyerupai Programme for International Student Assessment (PISA). TKA dari Kemendikdasmen sendiri akan dibuka pendaftarannya mulai 19 Januari hingga 28 Februari 2026, dengan pelaksanaan ujian pada April 2026. Namun, pemetaan ITB di Jawa Barat fokus pada analisis mendalam untuk perbaikan sistematis, bukan sekadar asesmen kelulusan atau seleksi. "Pemetaan ini bukan sensus, berbeda dengan TKA, tetapi semacam PISA," tegas Prof. Edy Tri Baskoro.
Kolaborasi antara Disdik Jawa Barat dan ITB dalam pemetaan kompetensi matematika bukanlah hal baru. Sebelumnya, pada Oktober 2025, sebanyak 3.040 siswa SMA di 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat juga mengikuti pemetaan serupa yang diselenggarakan oleh Tim Matematika FMIPA ITB menggunakan platform digital MathERA. Pengalaman ini menunjukkan komitmen berkelanjutan dari kedua institusi untuk memanfaatkan data dalam meningkatkan mutu pendidikan. Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Khusus dan Layanan Khusus (PKPLK) Disdik Jabar, Ai Nurhasan, menilai program ini sebagai langkah strategis untuk mendorong peningkatan Angka Partisipasi Kasar (APK) hingga jenjang SMA dan perguruan tinggi di Jawa Barat. Data yang dihasilkan diharapkan menjadi instrumen vital dalam penyusunan solusi sistematis untuk mempersiapkan kesiapan akademik siswa ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Implikasi jangka panjang dari pemetaan ini diharapkan signifikan. Hasil analisis ITB akan menjadi fondasi penting dalam perbaikan kurikulum dan proses pembelajaran matematika di Jawa Barat. Selain itu, ITB juga menyiapkan model pemetaan berbasis digital yang diharapkan dapat direplikasi secara nasional, memungkinkan wilayah lain untuk memiliki peta kompetensi matematika siswa yang akurat dan rekomendasi kebijakan konkret. Pendekatan ini mencerminkan upaya memperkuat kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy) di sektor pendidikan, memastikan bahwa setiap intervensi dan perbaikan didasarkan pada data yang valid dan komprehensif, guna menciptakan kualitas pendidikan yang lebih merata dan relevan dengan kebutuhan masa depan.