Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Menguak 6 Berkah Shalat Fardhu: Anugerah Ilahi Isra Miraj dari Sidratul Muntaha

2026-01-17 | 22:40 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-17T15:40:38Z
Ruang Iklan

Menguak 6 Berkah Shalat Fardhu: Anugerah Ilahi Isra Miraj dari Sidratul Muntaha

Perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Isra Mikraj, yang puncaknya adalah pertemuan langsung dengan Allah SWT di Sidratul Muntaha, melahirkan sebuah amanah agung bagi umat Islam: kewajiban salat lima waktu. Ibadah ini, yang diterima tanpa perantara malaikat Jibril, menandakan kedudukannya yang istimewa sebagai hadiah ilahi dan fondasi spiritual. Prof. Dr. M. Quraish Shihab, seorang pakar tafsir terkemuka, menggarisbawahi urgensi salat sebagai sarana mi'raj bagi orang mukmin, sebuah momen pertemuan di mana seorang hamba berdialog langsung dengan Sang Pencipta.

Salat lima waktu, yang diwajibkan setelah dialog transenden antara Nabi Muhammad SAW dan Allah SWT, membawa implikasi mendalam bagi kehidupan spiritual dan moral umat. Para ulama dan cendekiawan Islam kontemporer telah mengidentifikasi setidaknya enam keutamaan inti yang melekat pada praktik salat ini, yang tidak sekadar rutinitas ritual, melainkan jalur vital menuju kesempurnaan insani.

Pertama, salat adalah sarana komunikasi langsung antara hamba dengan Allah SWT, sebuah "hadiah spiritual" yang melampaui dimensi fisik. Momen Isra Mikraj menegaskan bahwa salat bukan sekadar ibadah yang diperintahkan, melainkan sebuah koneksi langsung yang "dipasang dari Sidratul Muntaha ke sajadah setiap mukmin", memungkinkan seorang hamba untuk "re-connect" dengan sumber asalnya di sisi Allah.

Kedua, salat berfungsi sebagai penghapus dosa-dosa kecil dan pembersih jiwa. Dalam sejumlah hadis, salat diibaratkan sebagai sungai yang mengalir lima kali sehari, membersihkan kotoran yang menempel pada tubuh. Praktik salat yang konsisten dan khusyuk secara signifikan membersihkan seorang Muslim dari kesalahan dan noda spiritual.

Ketiga, salat merupakan fondasi pembentuk akhlak, kedisiplinan, dan ketenangan batin. Al-Qur'an secara eksplisit menyatakan bahwa salat mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Ankabut ayat 45. Selain itu, salat melatih kedisiplinan waktu, konsentrasi, dan ketenangan jiwa di tengah hiruk pikuk kehidupan. Mgs Syaiful Padli, Anggota DPRD Kota Palembang, pada Januari 2026, menekankan bahwa salat adalah fondasi utama pembentukan akhlak, kedisiplinan, dan ketenangan batin.

Keempat, salat memiliki keutamaan mengangkat derajat seorang hamba di sisi Allah SWT. Hadis riwayat Muslim menjelaskan bahwa setiap sujud yang dilakukan seorang Muslim akan meningkatkan martabatnya dan menghapus kesalahan yang telah dilakukan. Ini merupakan bentuk penghargaan ilahi atas ketaatan dan ketundukan.

Kelima, salat menjadi petunjuk dan benteng yang menjauhkan seseorang dari kesesatan. Dengan menjaga salat, seorang Muslim akan senantiasa terlindungi dari jurang kekafiran dan penyimpangan. Ibadah ini menjadi penanda utama status keimanan seseorang; meninggalkannya menjadi tanda awal kekafiran, sebagaimana banyak disepakati dalam tradisi Islam.

Keenam, salat memperkuat iman dan keteguhan hati. Kewajiban salat lima waktu yang diterima Nabi Muhammad SAW di Sidratul Muntaha menjadi bukti kekuasaan Allah SWT dan menuntut keimanan yang kokoh. Melaksanakan salat dengan ikhlas dapat meningkatkan kualitas hidup seorang Muslim dengan memperkuat iman dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, sekaligus memberikan keteguhan hati dalam menghadapi cobaan.

Perintah salat yang diturunkan dalam peristiwa Isra Mikraj ini, tidak hanya sekadar formalitas ibadah, melainkan sebuah manifestasi kasih sayang Allah SWT yang bertujuan untuk membimbing manusia menuju kebahagiaan hakiki. Sebagaimana dijelaskan oleh Prof. Quraish Shihab, meskipun Rasulullah SAW telah menunaikan salat sebelum Isra Mikraj, peristiwa ini mengukuhkan penetapan kewajiban salat lima waktu secara formal bagi umat Islam hingga saat ini. Dengan demikian, salat lima waktu merupakan hadiah yang tak ternilai, mencerminkan kebijaksanaan ilahi dalam menuntun umat manusia mencapai integritas moral dan spiritual.