Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Menguak Rahasia Bahagia Siswa SMA Jabar: Bukan Cuma Nilai, Pesisir dan Pegunungan Berbeda

2026-01-20 | 16:35 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-20T09:35:43Z
Ruang Iklan

Menguak Rahasia Bahagia Siswa SMA Jabar: Bukan Cuma Nilai, Pesisir dan Pegunungan Berbeda

Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) di wilayah pesisir dan pegunungan Jawa Barat (Jabar) memiliki kunci kebahagiaan yang berbeda, jauh melampaui capaian nilai akademik, demikian terungkap dari sebuah studi disertasi terbaru yang dipresentasikan oleh doktor Psikologi Universitas Indonesia (UI), Neti Hernawati, pada 7 Januari 2026. Penelitian tersebut secara spesifik menunjukkan bahwa kesejahteraan siswa di daerah pegunungan cenderung lebih tinggi dan mereka menilai iklim sekolah lebih positif dibandingkan rekan-rekan mereka di wilayah pesisir.

Studi berjudul "Peran Motivasi Akademik dalam Memediasi Pengaruh Efikasi Diri Akademik dan Iklim Sekolah terhadap Kesejahteraan Siswa SMA di Wilayah Perdesaan Pegunungan dan Pesisir Jawa Barat" ini menyoroti bagaimana latar belakang geografis, sosial, dan budaya secara signifikan membentuk motivasi akademik, efikasi diri akademik, iklim sekolah, dan pada akhirnya, kesejahteraan siswa. Hernawati menekankan bahwa kesejahteraan siswa (student well-being) merupakan fondasi esensial bagi pendidikan berkualitas, memengaruhi aktivitas belajar harian, motivasi, kemampuan mengelola diri, serta interaksi sosial di sekolah.

Perbedaan karakteristik antara kedua wilayah menjadi inti temuan ini. Wilayah pegunungan, dengan komunitas yang cenderung lebih homogen, ikatan sosial yang kuat, dan pola hidup yang relatif stabil, melihat pendidikan sebagai sarana vital untuk meningkatkan taraf hidup. Hal ini berkorelasi dengan motivasi akademik yang lebih tinggi pada siswa di daerah tersebut. Sebaliknya, wilayah pesisir dicirikan oleh mobilitas sosial yang lebih tinggi, interaksi yang lebih dinamis, serta tantangan ekonomi dan lingkungan yang lebih kompleks. Di beberapa masyarakat pesisir, pendidikan bahkan seringkali dianggap kurang utama dibandingkan kebutuhan untuk segera mendapatkan penghasilan, seperti menjadi nelayan. Persepsi ini berpotensi memengaruhi efikasi diri akademik, motivasi, dan iklim sekolah.

Analisis mendalam Hernawati mengungkap bahwa meskipun motivasi akademik dan iklim sekolah yang kondusif berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan siswa di kedua wilayah, model peran motivasi akademik dalam menjembatani pengaruh efikasi diri akademik terhadap kesejahteraan siswa ditemukan lebih kuat di wilayah pegunungan. Ini mengindikasikan bahwa di pegunungan, motivasi internal untuk belajar memiliki dampak yang lebih langsung terhadap perasaan sejahtera siswa. Sementara itu, kesejahteraan siswa di kedua wilayah secara langsung dipengaruhi oleh iklim sekolah yang positif, terutama kualitas hubungan dengan guru dan teman sebaya, serta pemenuhan kebutuhan sosial dan emosional.

Hernawati menggarisbawahi bahwa kesejahteraan siswa adalah faktor krusial yang selama ini kurang diteliti di Indonesia, padahal memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan psikososial dan prestasi akademik. Studi ini menyarankan agar sekolah-sekolah di Jawa Barat memperkuat motivasi akademik, efikasi diri, dan menciptakan iklim sekolah yang positif melalui intervensi yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah. Untuk wilayah pegunungan, pembelajaran berbasis proyek yang melibatkan komunitas dan tokoh masyarakat direkomendasikan. Sementara itu, di wilayah pesisir, strategi yang disarankan adalah pembelajaran berbasis tantangan dengan unsur kompetisi sehat dan kolaborasi. Selain itu, di kedua wilayah, keterlibatan orang tua dan komunitas, peningkatan kompetensi pengajar, serta penguatan layanan bimbingan konseling sangat diperlukan.

Temuan ini diharapkan menjadi acuan penting bagi pembuat kebijakan guna mewujudkan pemerataan kualitas pendidikan di Jawa Barat dan daerah lain di Indonesia, dengan secara cermat mempertimbangkan konteks sosial dan geografis yang beragam. Kesuksesan pendidikan, menurut pandangan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, memang harus dimaknai lebih luas dari sekadar prestasi akademik, mencakup kebahagiaan yang bangkit dari diri sendiri dan relasi sosial yang kuat.