
Seluruh sekolah menengah di Indonesia bersiap memulai pengisian Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) untuk Seleksi Prestasi Akademik Nasional Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (SPAN-PTKIN) 2026 mulai Senin, 5 Januari 2026, pukul 10.00 WIB. Tahap awal krusial ini membuka gerbang bagi siswa berprestasi untuk memasuki 59 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di seluruh Indonesia melalui jalur tanpa tes, dengan penekanan baru pada inklusivitas dan penambahan Tes Kompetensi Akademik (TKA) sebagai salah satu variabel penilaian.
Pengisian PDSS yang dijadwalkan berlangsung hingga 7 Februari 2026, dilanjutkan dengan verifikasi PDSS sampai 9 Februari 2026, menjadi fondasi bagi pendaftaran siswa yang akan dibuka pada 11-28 Februari 2026. Panitia Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) PTKIN 2026 akan mengumumkan hasil seleksi pada 7 April 2026. Proses ini melibatkan input nilai rapor siswa dari semester 1 Kelas X hingga semester 1 Kelas XII, serta data prestasi lainnya, yang kemudian akan menjadi dasar pemeringkatan siswa.
Transformasi signifikan dalam mekanisme SPAN-PTKIN 2026 mencakup pengenalan variabel Tes Kompetensi Akademik (TKA) dalam penilaian jalur non-tes, sebuah langkah yang disebut Kementerian Agama (Kemenag) untuk meningkatkan objektivitas seleksi. Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Prof. Amin Suyitno, menjelaskan bahwa perubahan ini dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan calon mahasiswa berkebutuhan khusus sejak tahap awal pendaftaran melalui Sistem Pemetaan Disabilitas dan Sistem Rekomendasi Peminatan. Hal ini diharapkan memungkinkan pihak kampus menyiapkan skema pendampingan yang tepat, memastikan mahasiswa difabel dapat mengikuti proses belajar mengajar secara optimal. Menteri Agama, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, menegaskan komitmen bahwa PTKIN harus menjadi institusi yang inklusif dan ramah difabel, menegaskan bahwa keadilan akses pendidikan merupakan implementasi nilai-nilai agama.
Secara historis, SPAN-PTKIN merupakan pola seleksi nasional yang diselenggarakan serentak oleh Panitia Pelaksana yang ditetapkan oleh Menteri Agama, tanpa memungut biaya pendaftaran dari peserta. Jalur ini mempertimbangkan kualitas siswa (nilai rapor, mata pelajaran pendukung, tahfidz, dan prestasi lainnya), kualitas sekolah (akreditasi dan indeks daftar ulang), serta indeks kewilayahan untuk siswa dari daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal).
Antusiasme terhadap PTKIN terus meningkat setiap tahun. Pada tahun 2023, jumlah siswa yang melakukan finalisasi pendaftaran SPAN-PTKIN mencapai 176.413, meningkat dari 172.971 siswa pada tahun 2022. Total kuota mahasiswa baru di PTKIN pada tahun 2023 mencapai 177.135, di mana 33% di antaranya dialokasikan untuk jalur SPAN-PTKIN. Angka pendaftaran ini menunjukkan daya tarik yang signifikan terhadap pendidikan tinggi keagamaan Islam di Indonesia.
Pada SPAN-PTKIN 2025, total pendaftaran secara nasional mencapai 295.770. Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta mencatat pendaftar tertinggi dengan 26.614 pendaftaran, diikuti UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan 25.866 pendaftaran, dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan 26.120 pendaftaran. Data tahun 2024 juga menunjukkan UIN Sunan Gunung Djati Bandung, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai PTKIN dengan pendaftar terbanyak.
Dengan adanya transformasi kebijakan dan penekanan pada aspek inklusivitas serta objektivitas melalui TKA, SPAN-PTKIN 2026 diharapkan dapat menjaring calon mahasiswa yang tidak hanya berprestasi secara akademik dan non-akademik, tetapi juga memastikan akses pendidikan yang merata bagi seluruh anak bangsa. Ini merupakan upaya berkelanjutan Kemenag untuk memperkuat mutu pendidikan Islam di tingkat perguruan tinggi dan mencetak sumber daya manusia yang kompeten dan berdaya saing.