Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Pilihan Karir Siswa Sekolah Rakyat: 60% Targetkan Kuliah, Sisanya Pilih Jalur Kerja & Wirausaha

2026-01-19 | 08:46 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-19T01:46:54Z
Ruang Iklan

Pilihan Karir Siswa Sekolah Rakyat: 60% Targetkan Kuliah, Sisanya Pilih Jalur Kerja & Wirausaha

Kementerian Sosial (Kemensos) melaporkan mayoritas siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) memiliki aspirasi kuat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, dengan sekitar 60 persen dari lebih dari 6.000 siswa yang disurvei menyatakan minat tersebut. Sisanya, sekitar 40 persen, memilih jalur pekerja terampil atau berwirausaha setelah menyelesaikan pendidikan mereka, sebuah temuan yang diumumkan oleh Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) pada 11 Januari 2026. Data ini menunjukkan pergeseran signifikan dalam pola pikir generasi muda, khususnya dari keluarga miskin yang menjadi target program Sekolah Rakyat, mengenai jalur masa depan mereka.

Program Sekolah Rakyat sendiri merupakan inisiatif prioritas Presiden Prabowo Subianto yang bertujuan memberikan akses pendidikan gratis dan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga miskin, menyasar desil 1 hingga desil 4 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Program ini mencakup jenjang pendidikan dasar hingga menengah atas, yang diimplementasikan untuk memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan. Aspirasi yang terekam pada jenjang SRMA mencerminkan dampak dari akses pendidikan yang lebih merata dan kesadaran akan peluang pasca-sekolah.

Minat tinggi terhadap pendidikan tinggi di kalangan siswa SRMA ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dengan diberlakukannya kebijakan Wajib Belajar 13 Tahun mulai tahun ajaran 2025/2026, yang mencakup Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat, fondasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi semakin diperkuat. Kemensos telah menyiapkan berbagai instrumen pendukung, termasuk menjalin kerja sama lintas kementerian, lembaga, serta kemitraan dengan sektor swasta, guna memastikan jalur lanjutan bagi para lulusan Sekolah Rakyat yang bercita-cita kuliah. Selain itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 25 Tahun 2025 tentang Manajemen Talenta Murid, yang menjadi panduan dalam mengelola bakat, minat, dan kemampuan terbaik murid secara terencana dan berkelanjutan, termasuk melalui Sistem Informasi Manajemen Talenta Murid (SIMT Murid). Hal ini diharapkan dapat memberikan peluang yang adil bagi setiap murid untuk mengembangkan potensi mereka.

Di sisi lain, aspirasi untuk menjadi pekerja terampil atau berwirausaha yang dipilih oleh 40 persen siswa SRMA juga mengindikasikan pengakuan terhadap jalur karier non-akademik yang semakin relevan. Data survei pada generasi Z dan milenial di Asia Pasifik, termasuk Indonesia, menunjukkan bahwa mayoritas (72 persen) bercita-cita memiliki bisnis sendiri atau menjadi pengusaha. Di Indonesia, 66 persen responden muda yang belum memiliki usaha ingin memulai bisnisnya sendiri. Semangat kewirausahaan ini didorong oleh keinginan untuk perubahan karier dan peluang kesuksesan yang lebih besar, dengan keyakinan bahwa usia muda mempermudah adaptasi terhadap teknologi baru dan menghasilkan ide-ide segar.

Namun, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2023 dan Agustus 2024 menunjukkan realitas yang kontras di lapangan: mayoritas pelaku wirausaha di Indonesia, khususnya pada sektor industri mikro dan kecil, justru merupakan lulusan Sekolah Dasar (SD) ke bawah, mencapai 30 persen dari total pelaku wirausaha nasional pada 2023 dan mayoritas untuk wirausaha pemula pada 2024. Kesenjangan antara aspirasi kewirausahaan di kalangan siswa SRMA dengan tingkat pendidikan aktual mayoritas wirausahawan menggarisbawahi pentingnya pendidikan kewirausahaan yang terstruktur dan terintegrasi sejak dini. Pakar pendidikan menekankan bahwa bimbingan karier, termasuk pengenalan dunia wirausaha, harus dimulai sejak usia sekolah dasar untuk menumbuhkan mental entrepreneur. Kegiatan seperti 'Entrepreneur Day' atau 'Market Kids' di sekolah dasar telah terbukti efektif dalam memperkenalkan konsep wirausaha, menumbuhkan kreativitas, kemandirian, dan kemampuan memecahkan masalah.

Implikasi jangka panjang dari tren ini mencakup kebutuhan akan adaptasi sistem pendidikan yang lebih fleksibel. Kurikulum multi-exit yang diterapkan di beberapa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) memungkinkan siswa dengan kecerdasan tertentu diarahkan ke sekolah unggul, sementara yang memiliki bakat dan minat khusus diarahkan sesuai potensi mereka, dengan ijazah yang diakui oleh Kementerian Pendidikan Tinggi. Hal ini menunjukkan pengakuan terhadap keberagaman jalur sukses bagi siswa. Peran orang tua juga menjadi krusial dalam mendukung pilihan pendidikan dan karier anak, baik secara moral maupun material. Mereka perlu menciptakan lingkungan belajar yang positif di rumah dan aktif berkomunikasi dengan anak mengenai cita-cita mereka.

Dengan adanya dukungan kebijakan pemerintah dan kesadaran kolektif dari orang tua serta lembaga pendidikan, pengembangan talenta siswa Sekolah Rakyat diharapkan dapat mengarah pada pembentukan sumber daya manusia unggul yang siap menghadapi tantangan masa depan, baik melalui jalur akademik maupun kewirausahaan, guna mendukung visi Indonesia Emas 2045.