
Calon presiden Prabowo Subianto menyatakan kekagumannya terhadap kemampuan pidato empat bahasa yang ditunjukkan oleh sejumlah siswa dari Sekolah Rakyat (SR) pada sebuah acara di Subang, Jawa Barat, baru-baru ini, memicu pertanyaan mengenai mekanisme dan komitmen negara untuk mengirimkan talenta muda berprestasi dari latar belakang terbatas ke jenjang pendidikan internasional. Pernyataan tersebut menyoroti disparitas akses pendidikan berkualitas tinggi dan membuka diskusi tentang kapasitas program beasiswa nasional dalam menjangkau siswa dari sekolah-sekolah informal atau non-arus utama.
Insiden tersebut terjadi ketika Prabowo menyaksikan langsung kemampuan siswa-siswa SR yang mahir berbicara dalam bahasa Indonesia, Inggris, Arab, dan Mandarin. Ia secara spontan menyatakan keinginan agar mereka dapat melanjutkan pendidikan di luar negeri, mempertanyakan bagaimana hal itu bisa diwujudkan. Sekolah Rakyat, yang seringkali didirikan dan dikelola oleh masyarakat dengan sumber daya terbatas, bertujuan untuk menyediakan pendidikan bagi anak-anak yang mungkin tidak memiliki akses ke sekolah formal negeri atau swasta. Fokus pada penguasaan bahasa asing di SR ini menunjukkan adanya inisiatif lokal yang signifikan dalam mengembangkan potensi siswa, melampaui kurikulum standar yang seringkali kurang menekankan pada multilingualisme tingkat tinggi.
Komentar Prabowo mencerminkan aspirasi yang lebih luas dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia di kancah global, namun juga menggarisbawahi tantangan nyata dalam menyamaratakan kesempatan tersebut. Data dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menunjukkan bahwa meskipun ada peningkatan jumlah pelajar Indonesia yang melanjutkan studi ke luar negeri, sebagian besar berasal dari latar belakang ekonomi yang lebih mapan atau melalui program beasiswa yang kompetitif dari lembaga-lembaga tertentu. Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) yang dikelola oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), misalnya, menargetkan putra-putri terbaik bangsa, namun kriteria dan proses seleksinya kerap dinilai sulit dijangkau oleh siswa dari daerah terpencil atau sekolah dengan kualitas pengajaran yang belum merata. Pada tahun 2023, LPDP mengalokasikan dana sekitar Rp25 triliun untuk berbagai program beasiswa, termasuk untuk studi di luar negeri, namun tidak ada data spesifik yang menunjukkan berapa persen penerima berasal dari sekolah-sekolah dengan karakteristik seperti Sekolah Rakyat.
Para ahli pendidikan menilai bahwa keinginan untuk mengirim siswa berprestasi ke luar negeri adalah langkah positif, namun memerlukan strategi yang komprehensif. "Inisiatif seperti yang disampaikan oleh Pak Prabowo perlu ditindaklanjuti dengan kerangka kebijakan yang jelas, tidak hanya retorika. Ini bukan hanya soal dana, tapi juga persiapan akademik, dukungan mental, dan akses informasi bagi siswa dari latar belakang yang kurang diuntungkan," ujar Dr. Ratna Sari Dewi, seorang pengamat pendidikan dari Universitas Indonesia. Menurutnya, siswa dari SR mungkin memiliki kecerdasan dan bakat yang luar biasa, tetapi mereka mungkin kekurangan persiapan dalam hal kurikulum internasional, tes standar global, atau bahkan keterampilan non-akademik yang penting untuk adaptasi di lingkungan asing.
Secara historis, Indonesia telah memiliki berbagai program beasiswa untuk mengirimkan siswa berprestasi ke luar negeri, dimulai dari era Soekarno hingga saat ini, namun sebagian besar berfokus pada jenjang universitas atau pascasarjana. Program beasiswa untuk siswa setingkat sekolah menengah atau setara, terutama dari sekolah swadaya masyarakat, masih sangat terbatas dan seringkali bergantung pada inisiatif swasta atau organisasi non-pemerintah. Ini menciptakan kesenjangan antara potensi individu dan ketersediaan jalur formal. Implikasi jangka panjang dari kurangnya mekanisme yang jelas untuk siswa seperti mereka yang ditemui Prabowo adalah potensi kehilangan talenta-talenta muda yang dapat berkontribusi signifikan bagi pembangunan bangsa. Tanpa dukungan struktural, cita-cita untuk menciptakan sumber daya manusia unggul yang merata di seluruh lapisan masyarakat akan tetap menjadi tantangan besar bagi sistem pendidikan nasional Indonesia.