:strip_icc()/kly-media-production/medias/4324209/original/050007600_1676414242-Ilustrasi_Isra_Miraj.jpg)
Umat Muslim di seluruh dunia bersiap menyambut peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah, yang berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia terbitan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Ditjen Bimas) Islam Kementerian Agama RI, jatuh pada hari Jumat, 16 Januari 2026. Momen ini menandai perjalanan spiritual luar biasa Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, dilanjutkan dengan mi'raj atau kenaikan menembus langit hingga Sidratul Muntaha, tempat beliau menerima perintah salat lima waktu langsung dari Allah SWT. Peringatan ini, yang secara tradisional diyakini terjadi pada 27 Rajab, menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk merenungkan makna mendalam peristiwa tersebut dan mempererat hubungan mereka dengan Sang Pencipta melalui berbagai amalan.
Peristiwa Isra Miraj, yang diabadikan dalam Al-Qur'an Surat Al-Isra ayat 1 dan An-Najm ayat 13-18, bukan sekadar kisah historis, melainkan mukjizat besar yang menegaskan keagungan Allah SWT dan kebenaran kenabian Muhammad SAW. Sebagian besar ulama, termasuk Ibnu Hajar, meyakini bahwa perjalanan ini terjadi dengan ruh dan jasad Nabi dalam keadaan sadar, bukan sekadar mimpi. Isra melambangkan perjalanan horizontal dari Mekah ke Yerusalem, sementara Mi'raj adalah perjalanan vertikal menembus dimensi langit, di mana Nabi Muhammad bertemu para nabi terdahulu seperti Adam, Musa, dan Isa, sebelum mencapai Sidratul Muntaha. Esensi utama dari perjalanan spiritual ini adalah penetapan kewajiban salat lima waktu, yang menjadi tiang agama dan bentuk komunikasi langsung antara hamba dengan Tuhannya.
Para ulama menganjurkan sejumlah amalan sunah pada malam 27 Rajab untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Amalan-amalan ini meliputi salat sunah, memperbanyak zikir, istigfar, sedekah, dan membaca doa. Imam Al-Ghazali, dalam kitab Ihya Ulumuddin, bahkan menganjurkan pelaksanaan salat sunah sebanyak dua belas rakaat pada malam 27 Rajab, dengan salam setiap dua rakaat, diikuti oleh shalawat, istigfar, dan doa. Meskipun demikian, beberapa ulama mengingatkan agar tidak mengkhususkan ibadah tertentu secara berlebihan atau merayakannya dengan cara-cara yang tidak memiliki dasar kuat dalam syariat, karena Nabi dan para sahabat tidak pernah secara khusus merayakannya. Fokus utama harus tetap pada pengambilan hikmah dan penguatan spiritual dari peristiwa agung tersebut, bukan pada ritualistik yang tidak bersumber jelas.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, makna Isra Miraj tetap relevan sebagai pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan spiritual dan etika hidup. Kisah ini mengajarkan keteguhan iman, kesabaran, keikhlasan, dan keyakinan pada pertolongan Allah di kala sulit. Peristiwa Isra Miraj menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk senantiasa muhasabah (introspeksi diri) dan menjadikan salat sebagai momen refleksi untuk mendapatkan ketenangan hati dan pikiran. Dengan merenungi dan menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam Isra Miraj, umat Islam diharapkan mampu menghadapi tantangan zaman dengan memperkuat hubungan personal dengan Allah SWT, serta mewujudkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat.