
Pulau terbesar di dunia, Greenland, yang sebagian besar permukaannya diselimuti lapisan es tebal, mendapatkan namanya dari penjelajah Viking Erik the Red pada akhir abad ke-10 sebagai sebuah strategi untuk menarik pemukim baru. Nama "Greenland" atau "Tanah Hijau" sengaja dipilih untuk menciptakan daya tarik di kalangan bangsa Nordik, kontras dengan kondisi geografisnya yang dingin dan tertutup es.
Erik the Red, yang diasingkan dari Islandia karena kasus pembunuhan, berlayar ke barat sekitar tahun 982 Masehi dan menemukan daratan yang kini dikenal sebagai Greenland. Catatan saga Islandia mengindikasikan bahwa ia menghabiskan tiga tahun pengasingannya menjelajahi wilayah tersebut, menemukan lanskap fyord yang mengundang dan lembah-lembah hijau di bagian selatan pulau. Kala itu, Greenland bagian selatan memang sedikit lebih hangat dibandingkan sekarang, sebuah periode yang dikenal sebagai Anomali Iklim Abad Pertengahan atau Medieval Warm Period, memungkinkan aktivitas pertanian dan penggembalaan ternak di wilayah pesisir yang mendukung padang rumput. Strategi penamaan ini terbukti efektif, dengan banyak pemukim Nordik berlayar dari Islandia untuk mendirikan koloni di sana. Namun, ironisnya, inti es yang dikumpulkan para ilmuwan menunjukkan bahwa lapisan es Greenland telah berusia setidaknya 400.000 hingga 800.000 tahun, membuktikan bahwa sebagian besar pulau selalu tertutup es, bahkan selama periode hangat tersebut.
Saat ini, sekitar 80 persen daratan Greenland, yang memiliki luas total 2,16 juta kilometer persegi, tertutup oleh lapisan es raksasa. Lapisan es ini merupakan massa es terbesar kedua di dunia setelah Antartika, dengan ketebalan rata-rata mencapai 1,67 kilometer dan di beberapa titik bahkan lebih dari 3 kilometer. Jika seluruh lapisan es ini mencair, permukaan laut global diperkirakan akan naik sekitar 7,2 meter.
Di tengah nama historisnya yang "hijau", perubahan iklim global kini secara paradoks memang membuat sebagian wilayah Greenland menjadi semakin hijau secara harfiah. Antara pertengahan tahun 1980-an dan pertengahan tahun 2010-an, luas vegetasi di Greenland meningkat lebih dari dua kali lipat, dengan hilangnya es mencapai 28.707 kilometer persegi, atau sekitar 36 kali luas Kota New York. Lahan basah di sana bahkan meningkat empat kali lipat dalam kurun waktu yang sama. Para peneliti memperingatkan bahwa hilangnya es ini memicu reaksi berantai yang akan mengakibatkan lebih banyak hilangnya es dan "penghijauan" lebih lanjut, di mana batuan gundul yang terbuka kemudian dijajah oleh tundra dan semak belukar.
Lapisan es Greenland telah kehilangan 20 persen lebih banyak es daripada perkiraan sebelumnya dalam empat dekade terakhir, menyumbang lebih dari 20 persen kenaikan permukaan laut yang diamati sejak tahun 2002. Chad Greene, seorang ahli glasiologi dari Jet Propulsion Laboratory NASA, menggarisbawahi bahwa hampir semua gletser di Greenland menipis atau hilang secara bersamaan. Studi terbaru pada tahun 2025 menunjukkan bahwa keretakan pada lapisan es Greenland berkembang jauh lebih cepat, dengan peningkatan signifikan dalam ukuran dan kedalaman celah dalam skala lima tahun, bukan dekade seperti yang diperkirakan sebelumnya. Pemetaan satelit resolusi tinggi dari tahun 2016 hingga 2021 mengungkapkan bahwa percepatan aliran es ini sangat berkaitan dengan pemanasan suhu lautan. Suhu udara rata-rata tahunan di Greenland antara tahun 2007 dan 2012 tercatat 3 derajat Celsius lebih hangat dibandingkan rata-rata tahun 1979 hingga 2000, dengan wilayah Arktik secara keseluruhan mengalami pemanasan sekitar empat kali lebih cepat dari rata-rata global.
Implikasi jangka panjang dari "penghijauan" dan pencairan es Greenland ini sangat luas, melampaui perubahan ekologis lokal. Mencairnya permafrost melepaskan karbon dioksida dan metana, yang mempercepat pemanasan global. Bersamaan dengan itu, pencairan es juga membuka akses terhadap cadangan mineral bernilai tinggi, termasuk logam tanah jarang, uranium, dan bijih besi, yang vital bagi industri teknologi bersih dan pertahanan, menjadikan Greenland titik fokus geopolitik yang signifikan. Kawasan ini juga menjadi pintu masuk menuju Arktik, dengan mencairnya es laut yang membuka jalur pelayaran baru, berpotensi mengubah rute logistik dan perdagangan global. Pangkalan Udara Pituffik (sebelumnya Thule Air Base) di Greenland tetap menjadi aset strategis bagi pertahanan Amerika Serikat dan pengawasan aktivitas Rusia di Kutub Utara. Minat akuisisi Greenland oleh mantan Presiden AS Donald Trump, yang kembali mencuat pada awal tahun 2026, mencerminkan peningkatan persaingan global di kawasan Arktik yang didorong oleh sumber daya alam dan kepentingan keamanan nasional. Meskipun kesempatan ekonomi terbuka, para ahli memperingatkan dampak lingkungan jangka panjang dari eksploitasi mineral, yang bertentangan dengan komitmen mitigasi krisis iklim global.