Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Studi Kemendikdasmen Ungkap Keunggulan PAUD: Kunci Kesiapan Anak Masuk SD

2026-01-07 | 10:28 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-07T03:28:22Z
Ruang Iklan

Studi Kemendikdasmen Ungkap Keunggulan PAUD: Kunci Kesiapan Anak Masuk SD

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah memaparkan hasil riset yang menunjukkan bahwa anak-anak yang menempuh Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memiliki tingkat kesiapan yang jauh lebih tinggi untuk memasuki jenjang Sekolah Dasar (SD) dibandingkan mereka yang tidak. Kajian Kemendikbudristek tahun 2021 menemukan 78% anak PAUD memiliki kesiapan kognitif dan sosial yang lebih baik, berbanding dengan hanya 45% pada anak non-PAUD. Temuan ini diungkapkan oleh Dra. Mareta Wahyuni, M.Pd., Ketua Tim Kerja Pembelajaran dan Penilaian, Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, Kemendikdasmen, dalam sebuah sesi dialog riset baru-baru ini.

Data spesifik dari kajian tersebut memperkuat argumen tentang esensialnya PAUD sebagai fondasi pendidikan. Anak-anak yang mengikuti PAUD, khususnya di daerah pedesaan, dilaporkan 1,8 kali lebih siap menghadapi SD dibandingkan anak-anak yang tidak mengikuti PAUD, berdasarkan riset "Investing in Early Childhood Education in Indonesia" oleh UNICEF Indonesia dan Bappenas pada tahun 2020. Studi terpisah dari Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan (Puslitjakdikbud) pada tahun 2019 juga menunjukkan bahwa anak PAUD memiliki rata-rata nilai Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) 12% lebih tinggi pada kelas 1 SD.

Pentingnya pendidikan anak usia dini telah lama diakui sebagai periode emas (golden age) di mana perkembangan otak anak berlangsung sangat pesat, yakni pada usia 0-6 tahun. Intervensi pendidikan pada fase ini diyakini memiliki dampak jangka panjang yang signifikan terhadap kemampuan kognitif, karakter, dan kesiapan belajar anak. Anggota Komisi X DPR RI, Juliyatmono, menegaskan bahwa PAUD bukan sekadar pengasuhan, melainkan fase krusial dalam pembentukan dasar literasi, numerasi, disiplin sosial, dan kesiapan psikologis anak memasuki pendidikan formal. Ia juga mendorong agar PAUD menjadi bagian dari wajib belajar dalam revisi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, menjadikannya langkah strategis dan bukan opsional.

Sebagai respons terhadap temuan ini dan untuk memastikan hak anak atas pendidikan terpenuhi, Kemendikbudristek telah meluncurkan program Merdeka Belajar Episode ke-24: Gerakan Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan pada Maret 2023. Direktur Jenderal PAUD Dikdasmen Kemendikbudristek, Iwan Syahril, menyatakan bahwa gerakan ini bertujuan meluruskan miskonsepsi praktik pembelajaran PAUD dan SD, dengan tiga target perubahan utama: menghilangkan tes calistung, menerapkan masa perkenalan dua minggu bagi peserta didik baru, dan fokus pada pembangunan enam kemampuan fondasi anak. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim, menekankan pentingnya gotong royong lintas sektor untuk melindungi hak anak dalam bertumbuh dan berproses.

Meski demikian, implementasi kebijakan ini menghadapi sejumlah tantangan signifikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 menunjukkan Angka Partisipasi Sekolah (APS) anak usia 5-6 tahun baru mencapai 74,15%, dan hanya 27,32% anak usia 0-6 tahun yang sedang atau pernah mengikuti PAUD. Selain itu, kualitas PAUD masih menjadi perhatian, dengan hanya 54,87% satuan PAUD yang terakreditasi minimal B dan 34,30% yang membangun kemampuan fondasi pada tahun 2024. Proporsi anggaran Bantuan Operasional Penyelenggaraan PAUD (BOP PAUD) juga menunjukkan tren penurunan terhadap total belanja negara dan anggaran pendidikan, bahkan alokasi Rp600.000 per anak per tahun pada 2024 dinilai tidak mencukupi untuk menjamin kualitas penyelenggaraan PAUD yang memadai, yang menurut penelitian membutuhkan minimal Rp750.000 per anak per tahun. Tantangan ini berpotensi menghambat upaya pemerintah dalam mencapai tujuan pembangunan pendidikan jangka panjang dan pemerataan akses.

Ke depan, Kemendikdasmen terus menginisiasi Grand Design Wajib Belajar 13 Tahun yang mencakup satu tahun pendidikan prasekolah sebagai fondasi menuju Generasi Emas. Komitmen untuk memperluas akses dan menghadirkan layanan PAUD berkualitas di seluruh negara juga telah dideklarasikan dalam Forum Southeast Asia Policy Dialogue on Early Childhood Care and Education (SEA PD on ECCE) di Jakarta. Penguatan sistem PAUD yang holistik dan terintegrasi tidak hanya akan mempersiapkan anak secara akademis, tetapi juga secara mental dan sosial, memastikan mereka siap menghadapi jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan berkontribusi pada pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas di masa depan.