Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Terkuak: Badai Raksasa Dua Kali Bumi Mengamuk di Awan Misterius Jupiter

2026-01-18 | 19:23 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-18T12:23:21Z
Ruang Iklan

Terkuak: Badai Raksasa Dua Kali Bumi Mengamuk di Awan Misterius Jupiter

Penelitian terbaru yang memanfaatkan data dari pesawat ruang angkasa Juno milik NASA dan Teleskop Luar Angkasa James Webb secara signifikan telah membuka tabir kompleksitas atmosfer Jupiter, mengungkapkan bahwa badai raksasa, termasuk Bintik Merah Besar (Great Red Spot) yang berukuran hingga dua kali diameter Bumi, meresap jauh lebih dalam ke dalam planet gas raksasa tersebut daripada perkiraan sebelumnya. Temuan ini memberikan pemahaman tiga dimensi pertama tentang dinamika atmosfer Jupiter yang penuh gejolak, menjawab pertanyaan yang telah diajukan ilmuwan selama berabad-abad mengenai kedalaman badai-badai raksasa ini.

Bintik Merah Besar, sebuah badai antisiklon permanen yang terletak di 22 derajat selatan khatulistiwa Jupiter, telah diamati setidaknya selama 176 tahun, bahkan kemungkinan lebih dari 340 tahun sejak pertama kali dicatat oleh astronom Italia Giovanni Domenico Cassini pada tahun 1665. Badai raksasa ini memiliki lebar sekitar 16.000 kilometer (10.160 mil), yang secara diameter 1,3 kali lebih besar dari Bumi. Angin di tepian badai dapat mencapai kecepatan hingga 644 kilometer per jam. Data dari Juno, melalui instrumen radiometer gelombang mikro, menunjukkan bahwa Bintik Merah Besar meluas antara 300 hingga 500 kilometer di bawah puncak awan Jupiter. Kedalaman yang mengejutkan ini mengindikasikan bahwa badai tersebut jauh lebih besar secara vertikal daripada yang dibayangkan sebelumnya. Scott Bolton, peneliti utama misi Juno di Southwest Research Institute di Texas, menyatakan bahwa temuan ini mulai menyatukan kepingan-kepingan informasi untuk mendapatkan pemahaman nyata pertama tentang bagaimana atmosfer Jupiter yang indah dan penuh kekerasan bekerja dalam tiga dimensi.

Selain Bintik Merah Besar, badai di kutub Jupiter juga menunjukkan skala dan ketahanan yang luar biasa. Pesawat antariksa Juno telah menemukan siklon-siklon besar yang tersusun rapi di sekitar kutub utara dan selatan, masing-masing dengan diameter yang sebanding dengan jarak antara Napoli, Italia, dan New York City. Siklon-siklon ini, yang berputar dengan kecepatan angin hingga 354 kilometer per jam, menunjukkan perilaku mirip badai di Bumi tetapi dalam skala yang jauh lebih besar dan bertahan sangat lama. Para ilmuwan, termasuk Alberto Adriani yang memimpin studi tentang siklon kutub Jupiter, sebelumnya tidak mengetahui kondisi cuaca di dekat kutub Jupiter sebelum misi Juno.

Warna khas Bintik Merah Besar, yang bervariasi dari merah cerah hingga oranye gelap, diduga berasal dari reaksi kimia antara gas amonia, sulfur, dan senyawa fosfor di atmosfer Jupiter yang berinteraksi dengan radiasi ultraviolet dari Matahari. Sebuah studi terbaru yang diterbitkan pada 27 September 2024, dalam Journal of Geophysical Research: Planets, menggunakan Teleskop Luar Angkasa James Webb, mengungkapkan bahwa pusat Bintik Merah Besar bersuhu dingin, memungkinkan amonia mengembun dan membentuk awan tebal di mata badai. Penemuan ini menambahkan lapisan baru pada pemahaman mengenai komposisi dan dinamika internal badai. Meskipun diameter Bintik Merah Besar telah menyusut selama kurang lebih 150 tahun terakhir, awan-awannya justru membentang ke atas, menjadikannya lebih tinggi dan warnanya semakin pekat. Fenomena ini dianalogikan seperti tanah liat yang dibentuk menjadi vas tinggi pada alat putar pembentuk gerabah.

Ketahanan badai-badai di Jupiter dijelaskan oleh sifatnya sebagai planet gas raksasa yang tidak memiliki permukaan padat untuk meredam energinya, tidak seperti Bumi. Khususnya Bintik Merah Besar, posisinya di antara dua aliran jet kuat yang bergerak berlawanan arah membuatnya tetap berputar seperti roda yang terjepit di antara dua ban berjalan. Implikasi dari penemuan-penemuan ini melampaui pemahaman Jupiter saja. Dengan memahami dinamika atmosfer gas raksasa, para ilmuwan dapat memperoleh wawasan berharga tentang pembentukan dan evolusi planet di tata surya lain, serta lebih memahami sistem cuaca ekstrem secara umum. Studi-studi lanjutan, termasuk pengamatan jangka panjang menggunakan teknologi teleskop generasi berikutnya, diharapkan akan terus memperkaya data dan memberikan gambaran komprehensif tentang fenomena atmosfer kompleks ini, tidak hanya di Jupiter tetapi juga di planet-planet lain dengan kondisi serupa.