Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Terungkap: 10 Negara Paling Tahan Bencana, Salah Satunya Tetangga Dekat Indonesia

2026-01-04 | 10:48 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-04T03:48:28Z
Ruang Iklan

Terungkap: 10 Negara Paling Tahan Bencana, Salah Satunya Tetangga Dekat Indonesia

Peringkat terbaru World Risk Report 2023 dan 2024 menyoroti sejumlah negara dengan risiko bencana alam terendah di dunia, menempatkan Andorra, Monako, San Marino, dan Luksemburg di daftar teratas. Di antara negara-negara ini, Singapura muncul sebagai tetangga Indonesia yang secara konsisten menempati posisi aman secara global, menunjukkan ketahanan luar biasa terhadap berbagai ancaman geologis dan hidrometeorologi.

Indeks Risiko Dunia (World Risk Index/WRI), yang dirilis oleh Bündnis Entwicklung Hilft dan Institute for International Law of Peace and Armed Conflict (IFHV) di Ruhr University Bochum, mengevaluasi risiko bencana alam untuk 193 negara berdasarkan eksposur terhadap bahaya dan kerentanan masyarakat terhadapnya. Andorra memimpin daftar negara paling aman dengan persentase risiko 0,2, diikuti oleh Monako (0,24%) dan San Marino (0,36%). Singapura menempati posisi keempat dan kelima dalam laporan tahun 2023 dan 2024, masing-masing dengan skor risiko 0,63% dan 0,67%. Negara-negara dengan risiko rendah ini umumnya ditandai oleh struktur ekonomi yang kuat, tata kelola pemerintahan yang stabil, sistem hukum yang komprehensif, serta kapasitas kesiapan dan adaptasi yang unggul.

Keamanan Singapura dari bencana alam largely berasal dari posisi geografisnya yang strategis. Negara-kota ini terletak di luar zona subduksi utama dan jalur topan, sehingga minim risiko gempa bumi merusak, letusan gunung berapi, atau siklon tropis. Meskipun demikian, Singapura tidak sepenuhnya kebal; negara ini rentan terhadap banjir lokal akibat hujan monsun lebat dan menghadapi tantangan jangka panjang dari kenaikan permukaan laut sebagai negara pulau dataran rendah. Resiliensi Singapura diperkuat oleh pendekatan manajemen risiko bencana yang terintegrasi, dikenal sebagai Whole-of-Government Integrated Risk Management (WOG-IRM), yang melibatkan seluruh lembaga pemerintah dalam meningkatkan kesadaran risiko dan mengidentifikasi celah dalam sistem. Meteorological Service Singapore (MSS) di bawah National Environment Agency (NEA) menyediakan layanan pengawasan cuaca dan peringatan multi-bahaya 24/7. Selain itu, investasi berkelanjutan dalam infrastruktur yang kuat dan kapasitas penanganan yang baik, termasuk sistem drainase canggih dan rencana adaptasi kenaikan permukaan air laut, telah mengurangi kerentanan negara.

Berbeda dengan negara-negara berisiko rendah, laporan yang sama secara konsisten menempatkan negara-negara seperti Filipina, Indonesia, dan India dalam kategori risiko bencana tertinggi di dunia. Filipina menduduki peringkat teratas dengan WRI 46,91 pada tahun 2024, sementara Indonesia berada di posisi kedua dengan WRI 43,50 pada tahun 2023 dan 41,13 pada tahun 2024. Perbedaan mencolok ini menggarisbawahi pentingnya tidak hanya paparan terhadap bahaya fisik tetapi juga kapasitas masyarakat untuk menghadapi, mengatasi, dan beradaptasi terhadap dampak-dampak tersebut. "Kerentanan masyarakat adalah faktor risiko yang dapat secara langsung dipengaruhi," jelas Peter Mucke, direktur eksekutif Bündnis Entwicklung Hilft. Ini mencakup kesiapan infrastruktur, sistem peringatan dini, tata kelola yang efektif, serta partisipasi dan kesadaran publik.

Meskipun negara-negara seperti Singapura telah mencapai tingkat keamanan bencana yang tinggi melalui kombinasi geografi yang menguntungkan dan kebijakan proaktif, implikasi jangka panjang dari perubahan iklim tetap menjadi perhatian global. Kenaikan permukaan laut dan perubahan pola cuaca ekstrem akan terus menimbulkan tantangan baru, bahkan bagi negara-negara yang saat ini dianggap aman. Oleh karena itu, investasi dalam pengurangan risiko bencana, termasuk adaptasi terhadap perubahan iklim dan peningkatan resiliensi masyarakat, tetap menjadi prioritas krusial bagi semua negara, tanpa terkecuali.