Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

UGM Gerak Cepat: Pemetaan Bencana Sumatera, Inovasi Huntara & Air Bersih

2026-01-05 | 08:54 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-05T01:54:29Z
Ruang Iklan

UGM Gerak Cepat: Pemetaan Bencana Sumatera, Inovasi Huntara & Air Bersih

Universitas Gadjah Mada (UGM) mengonsolidasikan sumber daya akademik dan teknis untuk merespons dampak dahsyat bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025, dengan memimpin upaya pemetaan cepat wilayah terdampak, mendesain hunian sementara partisipatif, serta memasang sistem penjernih air bertenaga surya. Langkah-langkah ini diambil menyusul curah hujan ekstrem dan Siklon Tropis Senyar yang memicu banjir bandang dan tanah longsor, menewaskan lebih dari 1.100 jiwa, menghilangkan 165 orang, dan melukai 7.000 lainnya, serta memaksa satu juta penduduk mengungsi dari puluhan ribu rumah yang rusak berat.

Respons cepat UGM difokuskan untuk mengatasi kekosongan data spasial akurat yang kerap menghambat distribusi bantuan yang efektif di lapangan. Tim dari Fakultas Geografi UGM, sebagai bagian dari tujuh kelompok kerja lintas disiplin yang dibentuk UGM, telah melakukan pemetaan cepat dalam satu pekan pascabencana. Produk pemetaan ini meliputi peta area terdampak banjir, perubahan sebelum dan sesudah bencana, aksesibilitas jaringan jalan, status fasilitas kesehatan dan lokasi pengungsian, permukiman terdampak, serta kebutuhan masyarakat. "Dalam banyak kejadian bencana, bantuan sering tidak merata karena tidak didukung data spasial yang akurat. Kami ingin mengubah pola tersebut dari berbasis asumsi menjadi berbasis data," ujar Prof. Muhammad Kamal, S.Si, MGIS, Ph.D., Dekan Fakultas Geografi UGM. Data spasial tersebut dikonsolidasikan melalui Geoportal Informasi Kebencanaan (GIK) yang dapat diakses publik, memungkinkan relawan dan masyarakat terdampak melaporkan kebutuhan secara langsung. Geoportal ini juga terhubung dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menunjang penyaluran bantuan berbasis data. Dr. Nur Mohammad Farda, S.Si, M.Cs, anggota tim peneliti dari Fakultas Geografi UGM, menegaskan urgensi ketersediaan data spasial yang akurat dan waktu nyata untuk memetakan sebaran korban dan kebutuhan logistik.

Selain pemetaan, UGM juga menghadirkan solusi hunian bagi korban yang kehilangan tempat tinggal. Kelompok Riset "Tangguh" dari Fakultas Teknik UGM, yang melibatkan pakar arsitektur, teknik sipil, dan perencanaan kota dan wilayah, telah merancang hunian sementara (huntara) yang mengedepankan martabat manusia dan berprinsip keluarga. Desain ini memanfaatkan material lokal yang dapat didaur ulang, termasuk kayu-kayu gelondongan yang terbawa banjir, dan dirancang agar mudah dibangun secara mandiri oleh warga terdampak. Sejumlah 100 unit huntara sedang dibangun di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, dengan melibatkan warga setempat dalam pelatihan konstruksi. Ashar Saputra, Ph.D., Ketua Tim Tangguh Fakultas Teknik UGM, menyatakan pelatihan ini membekali warga dengan keterampilan konstruksi kayu aplikatif, yang penting mengingat kebutuhan puluhan ribu hunian pascabencana. Dr. Ardhya Nareswari, salah satu peneliti, menekankan bahwa huntara ini krusial sebagai tempat tinggal layak sementara mengingat pembangunan hunian permanen membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Krisis air bersih pascabencana juga diatasi UGM melalui pemasangan sistem penjernih air bertenaga surya. Unit-unit ini dipasang di fasilitas kesehatan seperti Rumah Sakit Umum Daerah Bener Meriah dan sejumlah puskesmas serta polindes di wilayah terdampak, termasuk Posko Pengungsian Pantan Kemuning dan Puskesmas Mesidah. Sistem ini memiliki kapasitas signifikan, mampu menghasilkan 500 hingga 1.000 galon atau setara 1.900 sampai 3.800 liter air bersih setiap hari, mencukupi kebutuhan ratusan warga di lokasi pengungsian dan fasilitas kesehatan. Nurhadi dari UGM menyoroti kerusakan pada empat dari delapan sumber PDAM di Bener Meriah, memperkuat pentingnya solusi air alternatif ini.

Bencana hidrometeorologi di Sumatera pada November 2025 tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari pola berulang yang kian meningkat dalam dua dekade terakhir, diperparah oleh deforestasi dan perubahan iklim. Dr. Ir. Hatma Suryatmojo, S.Hut., M.Si., IPU., Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi DAS UGM, menjelaskan bahwa curah hujan ekstrem hanyalah pemicu, sementara dampak merusak diperparah oleh rapuhnya benteng alam di kawasan hulu akibat kerusakan ekosistem hutan. Melampaui respons darurat, UGM juga memfokuskan kajian pada mitigasi bencana terintegrasi, melibatkan aspek kebijakan untuk mengadaptasi strategi penanggulangan dengan tantangan perubahan iklim. Selain itu, universitas menyediakan dukungan psikososial dan skema afirmasi pendidikan bagi mahasiswa terdampak, menegaskan peran multidimensional kampus dalam penanggulangan bencana. Pendekatan holistik UGM ini menunjukkan pergeseran paradigma dalam penanganan bencana dari sekadar respons menjadi penguatan resiliensi jangka panjang berbasis ilmu pengetahuan dan partisipasi komunitas.