
Universitas Negeri Surabaya (Unesa) secara resmi mengumumkan daya tampung Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026 sebanyak 6.690 mahasiswa baru. Keputusan ini, yang dirilis melalui laman Admisi Unesa dan juga dipaparkan dalam UNESA Virtual Campus Expo (UVCE) 2026, menegaskan komitmen Unesa dalam menyerap talenta berprestasi di tengah dinamika kebutuhan industri, termasuk dari program studi baru S1 Kecerdasan Artifisial (Artificial Intelligence/AI). Program studi S1 Kecerdasan Artifisial di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Unesa, yang baru dibuka pada tahun 2024, memiliki daya tampung 90 mahasiswa untuk jalur SNBP, SNBT, dan Mandiri pada tahun 2026, dengan alokasi 30 kursi untuk jalur SNBP.
Peningkatan kuota penerimaan Unesa ini sejalan dengan tren peningkatan peminat dalam beberapa tahun terakhir. Pada SNBP 2025, Unesa mencatat 30.579 pendaftar, naik dari 26.037 pendaftar pada tahun sebelumnya. Demikian pula, pada SNBP 2024, jumlah pendaftar mencapai 35.968, meningkat dari 34.527 pada tahun 2023. Kenaikan konsisten ini mencerminkan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap Unesa sebagai institusi pendidikan. Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Prof. Dr. Martadi, M.Sn., menyatakan bahwa tren ini menjadi semangat bagi Unesa untuk terus bertransformasi dan berkontribusi melalui penyiapan sumber daya manusia unggul.
Inklusi program studi S1 Kecerdasan Artifisial dalam jalur SNBP 2026 merupakan langkah strategis Unesa merespons transformasi digital global. Program ini dirancang untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya menguasai fondasi AI sebagai disiplin keilmuan, tetapi juga mampu merancang dan mengembangkan solusi AI yang etis dan berintegritas. Kurikulumnya mencakup pembelajaran mesin, pembelajaran mesin mendalam, sains kognitif, visi komputer, pemrosesan bahasa alami, analisis big data, robotika, green computing, bioinformatika, dan biomedis, dengan penguatan karakter techno-eduecopreneurship. Hal ini penting mengingat kebutuhan industri yang kian masif terhadap talenta AI. Riset menunjukkan bahwa lowongan pekerjaan yang mencari ahli AI meningkat hingga 34% secara global, dengan berbagai sektor seperti teknologi, keuangan, e-commerce, kesehatan, dan manufaktur membutuhkan posisi seperti AI Engineer, Data Scientist, dan Machine Learning Engineer. Bahkan, beberapa perusahaan dilaporkan mengurangi perekrutan tingkat pemula karena AI, sekaligus menekankan keterampilan khusus AI.
Kebijakan SNBP 2026 sendiri mengalami beberapa perubahan signifikan dari tahun sebelumnya, termasuk penambahan syarat Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai validator nilai rapor untuk siswa eligible. Langkah ini, menurut Martadi, merupakan terobosan untuk memastikan seleksi yang lebih adil dan objektif. Pengumuman kuota sekolah telah dilakukan pada 29 Desember 2025, dengan masa sanggah hingga 15 Januari 2026. Registrasi akun SNPMB untuk sekolah dan siswa berlangsung dari 5 Januari hingga 26 Januari 2026 dan 12 Januari hingga 18 Februari 2026, secara berturut-turut, diikuti pendaftaran SNBP dari 3 hingga 18 Februari 2026, dan pengumuman hasil pada 31 Maret 2026.
Di tengah antusiasme tinggi ini, Unesa, seperti perguruan tinggi lain, berhadapan dengan tantangan untuk menyeimbangkan kuota penerimaan dengan kualitas pendidikan dan daya serap pasar kerja. Meskipun prospek lulusan AI sangat menjanjikan, dinamika pasar kerja global menunjukkan pergeseran di mana AI juga dapat memengaruhi peluang kerja tingkat pemula, mendorong perusahaan untuk menekankan sertifikasi AI teknis dan kredensial pelatihan pemrograman dibandingkan hanya gelar semata. Unesa melalui program S1 Kecerdasan Artifisial berupaya mencetak lulusan yang tidak hanya siap bersaing, tetapi juga peka terhadap dampak sosial dan etika dalam pengembangan AI. Integrasi kurikulum dengan kebutuhan industri dan kolaborasi dengan lembaga riset menjadi kunci dalam memastikan relevansi program studi ini di masa depan. Hal ini mencerminkan upaya institusi pendidikan tinggi di Indonesia untuk tidak sekadar mengikuti tren teknologi, tetapi juga membentuk ekosistem yang mendukung inovasi dan etika dalam pengembangan kecerdasan buatan.