
Universitas Waseda, institusi swasta terkemuka di Jepang, baru-baru ini mencabut status lima mahasiswa pascasarjana dan membatalkan penerimaan tiga calon mahasiswa lainnya setelah ditemukan kecurangan serius dalam skor tes bahasa Inggris TOEIC yang digunakan untuk ujian masuk. Pengumuman yang dirilis pada Januari 2026 ini mengungkap adanya jaringan kecurangan terorganisir yang memengaruhi proses penerimaan mahasiswa magister di beberapa institusi.
Penyelidikan internal Waseda menemukan skor TOEIC yang diserahkan untuk ujian masuk sarjana dan pascasarjana mencakup hasil dari 52 peserta ujian yang nilainya telah dibatalkan karena kecurangan. Dari jumlah tersebut, 44 di antaranya adalah pelamar yang tidak berhasil masuk, sementara seorang mahasiswa sarjana yang sudah terdaftar di universitas tersebut dikenai skorsing tanpa batas waktu. Insiden ini bukan kasus terisolasi, karena Universitas Tsukuba dan Tokyo University of Science juga mengumumkan pembatalan serupa terkait kecurangan dalam tes TOEIC.
Kasus kecurangan ini berakar pada skema terorganisir yang terungkap tahun lalu, melibatkan mahasiswa pascasarjana asal Tiongkok dan peserta lainnya. Pihak penyelenggara tes TOEIC, Institute for International Business Communication, mengumumkan pada Juli 2025 bahwa mereka membatalkan skor 803 peserta ujian yang diduga terlibat kecurangan antara Mei 2023 hingga Juni 2025. Kecurangan ini sering kali melibatkan penggunaan perangkat mikro seperti mikrofon tersembunyi di masker dan kacamata pintar untuk menyampaikan jawaban kepada peserta ujian lain yang dilengkapi dengan earphone nirkabel.
Persyaratan kemahiran bahasa Inggris, khususnya melalui tes standar seperti TOEIC, memegang peran sentral dalam penerimaan mahasiswa magister di Jepang, terutama bagi program-program yang diajarkan dalam bahasa Inggris. Banyak universitas Jepang kini menawarkan program berbahasa Inggris untuk menarik mahasiswa internasional, menjadikan skor tes bahasa Inggris yang kredibel sebagai kriteria penting. Tekanan untuk mendapatkan skor tinggi dalam ujian ini sangat besar, terutama bagi calon mahasiswa yang melihatnya sebagai jalan pintas untuk masuk ke program pascasarjana bergengsi atau mendapatkan beasiswa yang sangat kompetitif.
Insiden kecurangan massal ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai integritas sistem pendidikan tinggi Jepang dan upaya negara tersebut untuk menginternasionalisasi kampus-kampusnya. Meskipun Jepang memiliki budaya yang menjunjung tinggi kejujuran dan kerja keras, kasus-kasus kecurangan dalam ujian masuk universitas telah mencuat sebelumnya. Pada tahun 2011, seorang remaja ditangkap karena menggunakan ponsel untuk membocorkan pertanyaan ujian masuk Universitas Kyoto ke forum daring, yang memicu kemarahan publik dan mempertanyakan adaptasi universitas terhadap teknologi baru dalam kecurangan. Kasus lain pada tahun 2022 juga melibatkan penggunaan ponsel pintar untuk membocorkan soal Common Test for University Admissions.
Pihak Universitas Waseda menegaskan komitmennya untuk "mempertahankan lingkungan ujian masuk yang adil dan tidak memihak, serta akan terus menindak tegas tindakan penipuan". Namun, skala dan sifat terorganisir dari kecurangan TOEIC ini menunjukkan tantangan yang lebih dalam dalam menegakkan integritas akademik, terutama di tengah meningkatnya persaingan global untuk mendapatkan tempat di institusi pendidikan tinggi. Kejadian ini dapat berdampak pada reputasi universitas-universitas Jepang di mata dunia, serta kepercayaan terhadap kredibilitas gelar yang mereka berikan. Untuk jangka panjang, universitas-universitas Jepang kemungkinan besar akan menghadapi tuntutan untuk memperketat protokol keamanan ujian, berinvestasi pada teknologi pendeteksi kecurangan yang lebih canggih, dan secara proaktif mengedukasi calon mahasiswa, khususnya dari luar negeri, mengenai standar integritas akademik yang ketat.