
Universitas Terbuka (UT) semakin mengukuhkan posisinya sebagai pilihan ideal bagi Generasi Z (Gen Z) yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi. Rektor Universitas Terbuka, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., menegaskan bahwa sistem perkuliahan kampusnya sangat cocok dengan karakteristik dan kebutuhan generasi muda saat ini.
Menurut Prof. Ali Muktiyanto, sekitar 80 persen dari total mahasiswa UT adalah kaum muda, dan 95 persen di antaranya merupakan pengguna aktif teknologi digital. Fakta ini membuktikan bahwa pendidikan terbuka dan jarak jauh sangat relevan bagi Gen Z. Kecenderungan anak muda saat ini yang menyukai sistem pembelajaran jarak jauh atau remote learning sangat selaras dengan model pendidikan di UT. Hal ini juga didukung oleh data di berbagai wilayah, di mana 60 hingga 70 persen mahasiswa baru UT didominasi oleh Gen Z yang berusia antara 17 hingga 25 tahun, bahkan banyak yang sudah bekerja sejak semester awal.
Sistem perkuliahan di UT dirancang fleksibel dan dapat dilakukan secara daring sepenuhnya. Kampus ini didukung oleh Learning Management System (LMS) dan berbagai sumber belajar digital, termasuk perpustakaan digital. Mahasiswa menjalani tutorial online (Tuton) selama satu semester, memungkinkan mereka untuk belajar kapan saja dan di mana saja sesuai dengan jadwal pribadi. UT juga memiliki unit layanan pembelajaran jarak jauh yang disebut Sentra Layanan Universitas Terbuka (SALUT), yang ke depannya akan diperbanyak dan dikembangkan tidak hanya berbasis tatap muka tetapi juga berbasis web.
Fleksibilitas ini juga tercermin dalam sistem ujian yang ditawarkan UT, termasuk Take Home Exam (THE) yang dapat diakses dari mana saja dan ujian online remote proctoring (UORP). Mahasiswa menerima modul sebagai bahan ajar mandiri dan dapat mengakses tugas melalui e-learning atau aplikasi UT Online. Meskipun sebagian kecil program studi, seperti Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), mungkin memiliki pertemuan tatap muka mingguan di kelompok belajar (Pokjar) terdekat, sebagian besar perkuliahan di UT adalah jarak jauh.
Selain fleksibilitas, UT juga menawarkan biaya kuliah yang terjangkau, sekitar Rp 1 jutaan per semester tanpa uang pangkal atau biaya gedung, serta tanpa tes masuk. Ini menjadikannya pilihan menarik bagi Gen Z yang ingin menempuh pendidikan tinggi tanpa terbebani biaya besar atau batasan geografis. UT juga menyediakan program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) yang memungkinkan pengalaman kerja dapat dikonversi menjadi Satuan Kredit Semester (SKS).
Prof. Ali Muktiyanto menambahkan bahwa sistem pembelajaran mandiri dan terbimbing di UT secara konsisten mengembangkan karakter unggul pada mahasiswa, seperti kemandirian intelektual, manajemen waktu yang disiplin, daya tahan, adaptabilitas, dan motivasi intrinsik yang kuat. Kurikulum UT juga terus diperbarui agar relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan era digital, dengan fokus pada pemikiran kritis, literasi digital, kompetensi bidang keilmuan, dan kesiapan kerja berbasis teknologi. Sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH), UT memiliki keleluasaan dalam menyesuaikan program studi dengan kebutuhan industri dan tren global, serta berkomitmen untuk mendorong inklusivitas akses pendidikan tinggi bagi semua lapisan masyarakat.