Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Pakar ITB Bongkar Misteri Banjir Dahsyat Sumatera: Ini Akar Penyebab Sebenarnya

2025-11-29 | 18:36 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-29T11:36:57Z
Ruang Iklan

Pakar ITB Bongkar Misteri Banjir Dahsyat Sumatera: Ini Akar Penyebab Sebenarnya

Banjir bandang dan tanah longsor dahsyat yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak 24 November 2025 telah menimbulkan duka mendalam dengan ratusan korban jiwa dan ribuan warga mengungsi. Bencana ini, menurut analisis para pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB), bukanlah semata-mata akibat curah hujan ekstrem, melainkan hasil interaksi kompleks dari tiga faktor utama.

Dr. Muhammad Rais Abdillah, Ketua Program Studi Meteorologi ITB dari Kelompok Keahlian Sains Atmosfer, mengungkapkan bahwa biang kerok di balik bencana ini adalah kombinasi kondisi atmosfer yang sangat aktif, kerusakan lingkungan yang mengurangi daya serap tanah, dan melemahnya kapasitas tampung wilayah.

Pertama, kondisi atmosfer yang sangat aktif ditandai dengan puncak musim hujan di wilayah Sumatera bagian utara. Menurut Dr. Rais, wilayah Tapanuli, misalnya, sedang berada pada puncak musim hujan yang memiliki pola hujan sepanjang tahun atau dua puncak hujan dalam satu tahun. Curah hujan harian di beberapa daerah tercatat lebih dari 150 milimeter, bahkan beberapa stasiun BMKG mencatat lebih dari 300 milimeter dalam satu hari, sebuah angka yang mendekati curah hujan ekstrem pemicu banjir besar Jakarta pada tahun 2020. Fenomena atmosfer lainnya yang memperparah situasi adalah perkembangan pusaran atau vortex dari Semenanjung Malaysia pada 24 November, yang kemudian berevolusi menjadi Siklon Tropis Senyar di Selat Malaka. Meskipun tidak sekuat siklon dari Samudra Hindia, siklon ini cukup signifikan untuk meningkatkan suplai uap air dan memperkuat pembentukan awan hujan di wilayah Sumatera bagian utara.

Kedua, kerusakan lingkungan menjadi faktor krusial yang memperburuk dampak banjir. Penurunan tutupan vegetasi alami, seperti hutan dan rawa, serta perubahan fungsi lahan menjadi permukiman atau perkebunan, telah secara drastis mengurangi kemampuan tanah untuk menyerap air. Ketika kawasan penahan air alami ini hilang, wilayah tersebut kehilangan kemampuan menahan limpasan air, menyebabkan air hujan langsung mengalir deras ke sungai dan memicu banjir bandang. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Utara bahkan menuding tujuh perusahaan turut berkontribusi dalam memperparah bencana, terutama di kawasan Tapanuli, yang berada dalam Ekosistem Batangtoru.

Ketiga, melemahnya kapasitas tampung wilayah juga berperan besar. Infrastruktur yang tidak memadai atau perencanaan tata ruang yang kurang mempertimbangkan risiko bencana semakin memperparah kondisi. Peta bahaya dan risiko banjir yang ada saat ini dinilai belum optimal karena terbatasnya data geospasial yang akurat dan pemodelan yang komprehensif.

Hingga Jumat malam, 28 November 2025, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan total korban meninggal dunia mencapai 174 orang, dengan 79 orang masih dinyatakan hilang. Sumatera Utara menjadi provinsi paling terdampak dengan 116 korban jiwa dan 42 orang hilang. Di Sumatera Barat, tercatat 26 korban meninggal dunia, dan di Aceh, 35 orang dilaporkan meninggal dunia. Khusus di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, BPBD mencatat 86 orang tewas dan 88 lainnya hilang per Jumat malam, 28 November. Bencana ini juga menyebabkan kerusakan infrastruktur yang meluas, memutus akses jalur darat di beberapa titik penting seperti jalur Sidempuan-Sibolga dan Sipirok-Medan di Sumatera Utara, serta jalur Bukittinggi-Padang di Sumatera Barat. Ribuan warga terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman.

Para pakar ITB menekankan pentingnya mitigasi jangka panjang yang mengintegrasikan sains atmosfer, rekayasa geospasial, dan tata kelola lingkungan yang adaptif dan berbasis data untuk membangun ketahanan masyarakat terhadap bencana hidrometeorologi di masa depan.