Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Pengakuan Bersejarah: Oxford Kini Akui Peneliti Indonesia di Balik Rafflesia hasseltii

2025-11-29 | 04:33 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-28T21:33:17Z
Ruang Iklan

Pengakuan Bersejarah: Oxford Kini Akui Peneliti Indonesia di Balik Rafflesia hasseltii

Universitas Oxford akhirnya mencantumkan nama-nama peneliti asal Indonesia dalam unggahannya terkait penemuan bunga langka Rafflesia hasseltii di Sumatera Barat. Langkah ini diambil setelah gelombang kritik tajam dari warganet dan tokoh nasional Indonesia yang menyoroti absennya pengakuan terhadap kontribusi vital ilmuwan dan pegiat konservasi lokal dalam publikasi awal Oxford.

Dalam unggahan terbarunya di platform media sosial X dan Instagram pada Jumat, 28 November 2025, Oxford University menjelaskan bahwa penemuan Rafflesia hasseltii ini merupakan hasil kerja sama antara peneliti Oxford Botanic Garden, Chris Thorogood, dengan penggiat konservasi lokal Septian Andriki (Deki) dan pemandu lokal Iswandi. Ekspetisi ini juga mendapatkan dukungan signifikan dari Joko Witono dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) serta Profesor Agus Susatya dari Universitas Bengkulu, yang bimbingannya membantu mewujudkan perjalanan ini.

Sebelumnya, University of Oxford sempat menjadi sorotan publik Indonesia setelah unggahan awal mereka hanya menyoroti peran Chris Thorogood tanpa menyebutkan peneliti Indonesia yang terlibat langsung di lapangan. Salah satu kritik keras datang dari mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang melalui akun X-nya meminta Oxford untuk mengakui nama-nama peneliti Indonesia, menegaskan bahwa mereka "bukanlah NPC" (Non-Playable Character).

Penemuan bunga Rafflesia hasseltii yang mekar sempurna di Hiring Batang Somi, Kecamatan Sumpur Kudus, Sijunjung, Sumatera Barat, pada November 2025 ini merupakan momen penting. Septian Andriki, seorang konservasionis asal Sumatera Barat, dikabarkan telah melakukan pencarian bunga ini selama 13 tahun, sejak 2011, sebelum akhirnya berhasil menemukannya mekar. Momen haru penemuannya bahkan terekam dalam sebuah video dan viral di media sosial. Bunga parasit raksasa ini dikenal sulit ditemukan karena hanya mekar dalam hitungan hari, tidak memiliki batang, daun, maupun akar, serta sangat bergantung pada tanaman inang dari genus Tetrastigma.

Ekspedisi ini adalah bagian dari Community for the Conservation and Research of Rafflesia (CCRR), sebuah kerja sama internasional yang telah berlangsung sejak tahun 2022. Kemitraan ini terdiri dari ahli biologi, rimbawan, peneliti, dan praktisi komunitas dari berbagai penjuru dunia yang bekerja dalam bidang Rafflesia. Tujuannya adalah mendokumentasikan sejumlah bunga paling langka di dunia dan membangun kelompok konservasi Rafflesia, termasuk membagikan pengetahuan, alat, serta praktik terbaik untuk melindungi tanaman ini dalam jangka panjang.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga telah menegaskan bahwa peneliti Indonesia akan menjadi penulis utama dalam publikasi ilmiah yang sedang dipersiapkan oleh Oxford University terkait temuan ini, memastikan bahwa semua periset yang terlibat, baik dari dalam maupun luar negeri, akan tercantum. Hal ini menegaskan kapasitas ilmuwan Tanah Air dalam riset botani internasional dan pentingnya pengakuan terhadap kontribusi lokal dalam kolaborasi ilmiah global.