
Universitas Terbuka (UT) menargetkan untuk menyumbangkan delapan persen Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi nasional pada tahun 2040. Ambisi ini disampaikan oleh Rektor UT, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., dalam acara UT Media Day 2025 yang berlangsung pada Jumat, 28 November 2025. Prof. Ali Muktiyanto, yang menjabat sebagai rektor untuk periode 2025-2030 sejak dilantik pada 25 Agustus 2025, menekankan bahwa UT harus mampu menyediakan kesempatan pendidikan bagi mahasiswa dari mana pun.
Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi merupakan perbandingan antara jumlah penduduk yang masih bersekolah di jenjang perguruan tinggi (tanpa memandang usia) dengan jumlah penduduk yang memenuhi syarat resmi usia sekolah di jenjang tersebut, yakni 19-23 tahun. Tingkat APK yang tinggi menunjukkan kemudahan akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi dan kapasitas sistem pendidikan untuk menampung siswa.
Saat ini, APK pendidikan tinggi Indonesia masih menghadapi tantangan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, APK pendidikan tinggi Indonesia mencapai 32,00%, meningkat 0,55 poin dari 31,45% pada tahun 2023. Angka ini masih tertinggal dibandingkan beberapa negara ASEAN lainnya, seperti Malaysia (43%), Thailand (49,29%), dan Singapura (91,09%). Kesenjangan akses pendidikan juga terlihat antara wilayah perkotaan (38,60%) dan perdesaan (21,16%) pada tahun 2024, dengan daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) memiliki angka partisipasi yang jauh lebih rendah. Faktor ekonomi juga menjadi penghalang signifikan bagi sebagian masyarakat untuk menempuh pendidikan tinggi.
Dalam upaya mencapai target delapan persen APK pendidikan tinggi pada 2040, Rektor Ali Muktiyanto menggarisbawahi beberapa strategi utama. Langkah pertama adalah mengukuhkan kewibawaan akademik dan memperkuat integritas. UT bertekad memiliki reputasi akademik yang kuat, dengan mendorong dosen-dosen untuk meningkatkan kualifikasi hingga jenjang S3 dan mencapai jabatan guru besar agar mampu bersaing di tingkat global.
Selain itu, UT akan menghadirkan inovasi baru yang dirancang untuk mempermudah sistem pembelajaran bagi mahasiswa. Mengingat 80% profil mahasiswa UT adalah anak muda dan 95% di antaranya adalah pengguna aktif teknologi digital, sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang diterapkan UT dinilai sangat cocok untuk Generasi Z yang mandiri dan melek digital. UT akan terus mengembangkan teknologi pembelajaran yang paling sesuai untuk generasi muda melalui Learning Management System (LMS) dan sumber belajar digital seperti perpustakaan digital.
Perguruan tinggi negeri yang berkantor pusat di Tangerang Selatan ini juga akan memperluas jangkauan layanannya dengan menambah Sentra Layanan Universitas Terbuka (SALUT) yang tidak hanya berbasis tatap muka, tetapi juga berbasis web, khususnya di daerah-daerah yang sulit terjangkau. Jadwal kuliah yang fleksibel melalui tutorial online (Tuton) juga memungkinkan mahasiswa untuk belajar kapan pun dan di mana pun. Peningkatan rekognisi publik melalui branding yang lebih masif di media massa juga menjadi fokus untuk menepis keraguan terhadap UT.
Sejak didirikan pada 4 September 1984, UT memiliki misi untuk membuka akses pendidikan tinggi bagi semua lapisan masyarakat, menjawab keterbatasan daya tampung perguruan tinggi negeri konvensional, serta menyediakan kesempatan bagi mereka yang bekerja untuk melanjutkan pendidikan. Dengan jumlah mahasiswa aktif yang mencapai lebih dari 700.000 per 3 Juni 2025, UT optimistis dapat berkontribusi signifikan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia dan menghadapi persaingan global.