Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Wamen Giring Ungkap Resep Tempe Mendunia: Komunitas Kuat

2025-12-20 | 17:10 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-20T10:10:25Z
Ruang Iklan

Wamen Giring Ungkap Resep Tempe Mendunia: Komunitas Kuat

Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha menekankan bahwa kekompakan komunitas tempe menjadi kunci utama dalam mengukuhkan tempe sebagai warisan budaya takbenda dunia dan siap mendunia. Upaya kolektif ini tidak hanya memperkuat identitas budaya, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan.

Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) telah mengambil langkah serius dengan mengajukan "Budaya Tempe" ke Sekretariat UNESCO pada akhir Maret 2024 untuk ditetapkan sebagai Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan. Proses ini diharapkan dapat membuahkan hasil positif pada tahun 2026, menjadikan tempe sebagai warisan budaya takbenda ke-17 dari Indonesia. Giring Ganesha, yang menjabat sebagai Wakil Menteri Kebudayaan sejak Oktober 2024, meyakini bahwa pengakuan UNESCO akan membuka peluang besar bagi industri tempe, mulai dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal hingga pelaku kuliner internasional. Ia mengibaratkan dampak pengakuan tempe akan setara dengan batik yang setelah ditetapkan UNESCO, meningkatkan ekosistem dan keuntungan bagi komunitasnya.

Giring melihat momentum besar bagi tempe untuk menjadi makanan global, sejalan dengan tren gaya hidup sehat dan vegan yang berkembang di dunia. Tempe, dengan kandungan nutrisi tinggi, serat, vitamin B12, kalsium, zat besi, dan magnesium, serta proses produksinya yang ramah lingkungan dan terjangkau, dianggap sebagai "superfood" yang relevan dengan kebutuhan global saat ini. Ini didukung oleh munculnya berbagai chef tempe, kreator kuliner, serta pertumbuhan bisnis tempe di luar negeri, yang tidak hanya dikelola oleh diaspora Indonesia.

Sejumlah organisasi seperti Indonesian Tempe Movement (ITM) yang dibentuk pada tahun 2014, serta Forum Tempe Indonesia (FTI) yang didirikan pada tahun 2008, telah aktif dalam mempromosikan tempe ke kancah internasional. FTI, misalnya, secara konsisten berfokus pada peningkatan kualitas produksi tempe dan memberikan pelatihan serta pendampingan kepada perajin, bahkan ada anggotanya yang telah berhasil memasarkan tempe ke berbagai negara. Upaya-upaya ini mencakup diplomasi budaya, seminar, lokakarya di berbagai negara termasuk di universitas ternama seperti Harvard dan Oxford, serta kampanye media sosial.

Kementerian Kebudayaan berharap tempe tidak hanya menjadi sajian, tetapi juga berkembang sebagai pengetahuan lokal yang menjadi pengetahuan global, memberikan manfaat bagi komunitas tempe, pelaku industri, dan semua pihak. Dengan semangat kekompakan komunitas dan dukungan pemerintah, tempe optimis dapat menjadi ikon kuliner nasional yang mendunia dan memperkuat diplomasi budaya Indonesia di mata internasional.