Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

BRIN Petakan Zona Merah Sinkhole: Apakah Wilayah Anda Berada dalam Daftar Bahaya?

2026-01-17 | 18:49 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-17T11:49:16Z
Ruang Iklan

BRIN Petakan Zona Merah Sinkhole: Apakah Wilayah Anda Berada dalam Daftar Bahaya?

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Jumat, 16 Januari 2026, memperingatkan masyarakat Indonesia mengenai potensi ancaman sinkhole atau lubang runtuhan tanah yang sering terjadi, khususnya di wilayah dengan karakteristik geologi batugamping. Peringatan ini disampaikan menyusul kejadian sinkhole baru-baru ini di Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, dan Kabupaten Aceh Tengah, Aceh. Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, secara spesifik menyoroti daerah-daerah seperti Gunung Kidul di Daerah Istimewa Yogyakarta, Pacitan di Jawa Timur, dan Maros di Sulawesi Selatan sebagai wilayah yang memiliki kerentanan tinggi terhadap fenomena geologi tersebut.

Fenomena sinkhole merupakan proses alamiah yang timbul akibat pelarutan bertahap lapisan batugamping di bawah permukaan tanah. Air hujan, yang menjadi sedikit asam setelah menyerap karbon dioksida dari atmosfer dan permukaan tanah, meresap ke dalam tanah dan melarutkan batuan yang mudah larut, utamanya batugamping. Proses ini membentuk rekahan dan rongga di bawah permukaan. Seiring waktu, aliran air permukaan dan air tanah melalui rekahan tersebut terus memperbesar rongga, secara progresif melemahkan lapisan penyangga di atasnya. Ketika curah hujan tinggi terjadi, lapisan penutup rongga akan menipis hingga mencapai titik di mana ia tidak lagi mampu menahan beban di atasnya, menyebabkan keruntuhan tiba-tiba dan terbentuklah lubang di permukaan tanah.

Tantangan utama dalam mitigasi sinkhole adalah sulitnya mendeteksi tanda-tanda awal kemunculannya. Pembentukan rongga berlangsung secara perlahan di bawah permukaan tanah, sehingga tidak mudah dikenali melalui pengamatan visual. Adrin Tohari mengindikasikan salah satu tanda yang perlu diwaspadai adalah hilangnya aliran air permukaan secara tiba-tiba. Kondisi ini memerlukan investigasi segera karena berpotensi memicu runtuhan.

Dalam upaya antisipasi dan pencegahan, BRIN merekomendasikan penggunaan survei geofisika seperti metode gayaberat, georadar, dan geolistrik untuk memetakan sebaran, kedalaman, dan ukuran rongga di bawah tanah. Metode ini memberikan gambaran citra kondisi bawah permukaan, memungkinkan potensi sinkhole diidentifikasi lebih dini. Untuk kawasan yang sudah teridentifikasi berpotensi, rekayasa geoteknik seperti cement grouting dapat diterapkan. Teknik ini melibatkan injeksi semen atau bahan kimia khusus melalui pipa bor untuk mengisi rongga dan memperkuat struktur batuan di bawah permukaan.

Masyarakat juga diimbau untuk tidak mengonsumsi air yang ditemukan di dalam lubang sinkhole secara langsung. Adrin Tohari menjelaskan bahwa air tersebut umumnya berasal dari air hujan dan air bawah permukaan, yang belum terjamin kebersihannya dan berpotensi mengandung bakteri berbahaya seperti E. coli serta logam berat. Air tersebut harus melalui analisis kimia yang ketat, meliputi kejernihan, warna, bau, rasa, pH, serta kandungan bakteri dan logam berat, sesuai standar kesehatan yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan.

Ancaman sinkhole merupakan risiko geologi yang memerlukan pemahaman mendalam dan tindakan mitigasi berkelanjutan. Dengan bentang alam karst yang luas, Indonesia menghadapi imperatif untuk terus memperkuat riset, pemetaan, dan edukasi publik demi meminimalisir dampak bencana yang terjadi tanpa peringatan visual yang jelas.