Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Hikmah Isra Miraj untuk Generasi Z: Kompas Spiritual di Era Digital

2026-01-17 | 18:55 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-17T11:55:43Z
Ruang Iklan

Hikmah Isra Miraj untuk Generasi Z: Kompas Spiritual di Era Digital

Perjalanan spiritual Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, sebuah peristiwa yang menembus batas ruang dan waktu, kini menemukan resonansi mendalam di tengah arus digitalisasi yang masif, memaksa generasi muda mendefinisikan ulang spiritualitas mereka di hadapan distraksi tanpa henti. Di saat gawai dan media sosial mendominasi lanskap kehidupan, hikmah dari perjalanan agung ini menawarkan kompas spiritual krusial untuk menavigasi kompleksitas era digital.

Isra Miraj, yang secara historis diperingati sebagai perjalanan malam Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, kemudian menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha untuk menerima perintah shalat langsung dari Allah SWT, secara tradisional dipahami sebagai bukti keimanan dan mukjizat yang agung. Namun, bagi Generasi Z dan milenial, yang tumbuh dalam ekosistem informasi instan dan konektivitas global, pemaknaan peristiwa ini dituntut untuk lebih kontekstual dan relevan dengan pengalaman hidup personal mereka.

Survei yang dilakukan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta pada tahun 2021 menemukan bahwa tingkat religiusitas, yang diukur dari frekuensi menjalankan ritual keagamaan, pada generasi milenial dan Gen Z merupakan yang terendah dibandingkan generasi sebelumnya, meskipun mereka cenderung konservatif. Data ini mengindikasikan pergeseran dalam cara generasi muda berinteraksi dengan praktik keagamaan formal. Di sisi lain, sebuah studi di Bojonegoro pada tahun 2022 menunjukkan bahwa remaja rata-rata menghabiskan empat jam sehari di media sosial, sebuah fakta yang menyoroti tantangan sekaligus peluang bagi transformasi spiritual.

Prof. Dr. H. Maskuri Bakri, M.Si, Rektor Universitas Islam Malang, menekankan bahwa di tengah kemajuan teknologi, manusia harus tetap menjadi sentral utama yang dihormati, dengan teknologi sebagai instrumen kehidupan. Ia mengingatkan umat Muslim untuk tidak terjebak dalam kemajuan teknologi semata, melainkan menjadikan nilai-nilai keislaman sebagai pedoman utama. Pandangan ini sejalan dengan interpretasi bahwa Isra Miraj bukan sekadar kisah perjalanan fisik, melainkan pengalaman spiritual terdalam yang memberikan energi untuk menghadapi krisis makna dan kelelahan mental yang akrab dengan kehidupan anak muda hari ini.

Keteguhan iman Nabi Muhammad dalam menghadapi keraguan kaumnya menjadi teladan bagi generasi digital untuk menyaring informasi dengan cerdas dan tidak mudah termakan hoaks, menjadikan Al-Qur’an dan Hadits sebagai pegangan utama dalam memilah kebenaran. Nilai ini krusial mengingat tantangan penyebaran informasi yang tidak akurat dan tidak valid di media sosial. Perintah shalat lima waktu yang diterima dalam Isra Miraj juga menjadi pengingat penting akan keseimbangan antara dunia digital dan spiritualitas, berfungsi sebagai "charging spiritual" agar hati tetap tenang dan fokus terjaga di tengah kesibukan gawai. Kyai Ageng Khalifatullah Malikaz Zaman menyebutnya sebagai modal ketahanan spiritual.

Pakar komunikasi Islam menyoroti pentingnya adaptasi dakwah dengan karakteristik generasi digital. Pelaku dakwah kini memanfaatkan platform digital seperti YouTube, Instagram, dan website untuk menyebarkan kajian Islami yang dikemas menarik dan kontekstual. Jihan, seorang mahasiswa yang diwawancarai RRI, melihat generasi muda sebagai agen perubahan strategis dalam menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah dan moderat di ruang digital. Hal ini mengindikasikan pergeseran dari dakwah tekstual menuju pendekatan yang lebih kontekstual dan solutif.

Literasi digital yang berbasis akhlak menjadi landasan etika bermedia sosial, mengingatkan bahwa setiap jejak digital memiliki konsekuensi, sebagaimana setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban. Konsep ini mendorong penggunaan teknologi untuk hal-hal produktif seperti mengikuti kajian daring, menyebarkan konten bermanfaat, dan membangun komunitas positif. Buya Hamka, sebagaimana dikutip RRI, menegaskan relevansi Islam sepanjang zaman, melihat Isra Miraj sebagai perjalanan spiritual yang mengajarkan pengembangan ilmu dan teknologi. Senada, Ustaz Adi Hidayat menekankan pembangunan komunitas yang mendukung nilai-nilai Islam di kalangan anak muda.

Secara implikatif, menafsir ulang hikmah Isra Miraj bagi generasi digital memerlukan pendekatan holistik yang tidak hanya menekankan ritual formal tetapi juga mendorong pengembangan karakter, literasi media yang kritis, dan etika digital yang kuat. Ini adalah upaya berkelanjutan untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi sejalan dengan kematangan iman dan moralitas, membimbing generasi muda menuju kehidupan yang seimbang dan bermakna di tengah kompleksitas dunia digital.