Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Prabowo Pacu 500 Sekolah Rakyat, Siapkan 500.000 Generasi Emas di 2029

2026-01-17 | 22:13 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-17T15:13:41Z
Ruang Iklan

Prabowo Pacu 500 Sekolah Rakyat, Siapkan 500.000 Generasi Emas di 2029

Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan target ambisius untuk membangun 500 Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia pada akhir masa jabatannya di tahun 2029, dengan proyeksi setiap sekolah menampung 1.000 murid, yang berarti akan melayani hingga 500.000 peserta didik secara nasional. Inisiatif ini, yang bertujuan untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi, berfokus pada penyediaan pendidikan berkualitas tinggi secara gratis bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang terdaftar dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial Nasional (DTSEN) desil 1 dan 2.

Pada 12 Januari 2026, Presiden Prabowo meresmikan operasional 166 Sekolah Rakyat yang tersebar di 34 provinsi dan 131 kabupaten/kota. Ratusan sekolah dengan konsep asrama ini mulai beroperasi secara bertahap antara Juli hingga awal Oktober 2025. Saat ini, 166 Sekolah Rakyat rintisan menampung 15.954 siswa, didukung oleh 2.218 guru, dan 4.889 tenaga kependidikan untuk jenjang SD, SMP, dan SMA atau sederajat. Pemerintah berencana melanjutkan pembangunan tahap kedua di 104 lokasi lainnya, yang dirancang untuk menampung 112.320 siswa melalui 3.744 rombongan belajar.

Program Sekolah Rakyat merupakan inisiatif langsung dari Presiden Prabowo Subianto dan diamanahkan kepada Kementerian Sosial, berkolaborasi dengan berbagai kementerian/lembaga serta pemerintah daerah. Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyatakan bahwa program ini adalah strategi besar untuk memberantas kemiskinan struktural, memastikan tidak ada anak bangsa yang tertinggal dalam pendidikan. Sekolah ini dirancang bukan sekadar institusi pendidikan formal, melainkan sebagai ekosistem terpadu yang menyediakan fasilitas dan layanan setara sekolah unggulan bagi anak-anak prasejahtera. Proses rekrutmen siswa tidak menggunakan tes akademik, melainkan berdasarkan data ekonomi dan hasil penjangkauan serta verifikasi lapangan oleh pendamping sosial. Sebanyak 60% orang tua siswa bekerja sebagai buruh harian lepas, kuli bangunan, buruh tani, atau pekerjaan lain dengan penghasilan tidak menentu.

Fokus program ini adalah pada pendidikan berasrama, dengan siswa belajar 24 jam untuk memastikan mereka tumbuh dalam ritme yang terjaga, sehat, tertib, percaya diri, dan memiliki arah. Sekolah Rakyat menyediakan fasilitas seperti cek kesehatan gratis, pemenuhan gizi dengan tiga kali makan dan dua kali camilan setiap hari. Kurikulumnya mengadopsi sistem Multi Entry Multi Exit (MEME), yang memungkinkan siswa masuk dan menyelesaikan studi berdasarkan kesiapan dan latar belakang pendidikan mereka, serta menyiapkan lulusan melalui DNA Talent Mapping untuk studi lanjutan atau memasuki dunia kerja.

Tantangan pemerataan pendidikan di Indonesia masih menjadi isu serius. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan rata-rata lama sekolah penduduk usia 15 tahun ke atas pada tahun 2024 baru mencapai 9,22 tahun, dengan target 9,82 tahun pada 2029. Ketimpangan akses, kualitas, dan hasil pendidikan masih terjadi, terutama di daerah terpencil dan kurang berkembang, akibat kesenjangan infrastruktur, distribusi guru berkualitas, dan akses teknologi. Ada sekitar 227 ribu anak usia SD, 499 ribu anak usia SMP, dan 3,4 juta anak usia SMA di Indonesia yang belum pernah sekolah atau putus sekolah.

Anggaran pendidikan dalam APBN Indonesia dialokasikan sebesar 20% dari total belanja negara, mencapai Rp660,8 triliun pada tahun 2024 dan diproyeksikan Rp724,26 triliun pada tahun 2025. Anggaran ini digunakan untuk berbagai program seperti Program Indonesia Pintar (PIP), Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, Bantuan Operasional Sekolah (BOS), tunjangan profesi guru, serta pembangunan dan rehabilitasi sarana pendidikan. Meskipun demikian, program Sekolah Rakyat ini merupakan tambahan upaya konkret di luar skema pendanaan pendidikan yang ada, dengan tujuan mengatasi masalah kemiskinan ekstrem melalui jalur pendidikan. Selain Sekolah Rakyat, Presiden Prabowo juga menjanjikan pembukaan kampus kedokteran dan teknik gratis untuk semua anak Indonesia, sebagai bagian dari upaya mengentaskan kemiskinan dan mengatasi kekurangan dokter serta dokter gigi di negara ini.