:strip_icc()/kly-media-production/medias/3187902/original/089581000_1595477323-eid-al-fitr-concept-with-people-eating-table_23-2147799467.jpg)
Pada Jumat, 16 Januari 2026, umat Islam di seluruh dunia memperingati Isra Miraj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah, sebuah momentum agung yang secara universal dimaknai sebagai titik tolak penataan kembali disiplin dan kualitas ibadah, dengan salat lima waktu sebagai intinya. Peristiwa historis perjalanan spiritual Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidratul Muntaha, bukan sekadar kisah mukjizat, melainkan penegasan fundamental atas pentingnya komunikasi vertikal hamba dengan Tuhannya di tengah realitas kehidupan modern yang sering mengikis esensi spiritual.
Perintah salat lima waktu yang diterima langsung oleh Nabi Muhammad SAW dari Allah SWT pada peristiwa Isra Miraj merupakan pilar utama ajaran Islam dan fondasi pembentukan akhlak seorang Muslim. Namun, para ulama dan tokoh agama menyoroti bahwa di tengah dinamika saat ini, banyak praktik ibadah cenderung menjadi rutinitas formal semata, kehilangan kekhusyukan, dan minim dampak pada perilaku sehari-hari. Menteri Agama RI Nasaruddin Umar, dalam tausiyah peringatan Isra Miraj, menegaskan bahwa peristiwa ini harus menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas spiritual dan membangun masyarakat beradab. Ia menyerukan agar umat menjadikan seluruh ruang kehidupan sebagai bagian dari ibadah, menyatakan, "Rumah kita harus menjadi masjid, kantor kita harus menjadi masjid, dan setiap ruang aktivitas kita harus menjadi tempat sujud kepada Allah SWT".
Meskipun Isra Miraj tidak memiliki amalan wajib atau ritual khusus yang secara spesifik ditetapkan oleh Rasulullah SAW untuk malam peringatannya, umat Islam dianjurkan untuk mengisi momentum ini dengan memperbanyak amalan saleh yang bernilai ibadah. Beberapa amalan yang sering direkomendasikan dan diamalkan oleh komunitas Muslim antara lain adalah shalat sunnah. Sebagian umat Islam mengerjakan shalat sunnah dua belas rakaat pada malam 27 Rajab, yang dapat dilakukan setelah Maghrib atau Isya, dengan salam setiap dua rakaat, disertai bacaan surah Al-Fatihah dan Al-Ikhlas. Meskipun beberapa ulama menilai hadis terkait shalat sunnah khusus malam 27 Rajab bersifat dhaif (lemah), amalan ini tetap boleh dilakukan sebagai bentuk ibadah umum dan pengharapan pahala.
Lebih dari itu, memperbanyak zikir, istigfar, dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW sangat dianjurkan. Bulan Rajab sendiri, di mana Isra Miraj terjadi, dikenal oleh sebagian ulama sebagai bulan istighfar, waktu yang baik untuk membersihkan diri dari dosa. Membaca doa khusus bulan Rajab dan surah Al-Isra serta An-Najm yang relevan dengan peristiwa ini juga menjadi amalan yang dipraktikkan. Sedekah kepada yang membutuhkan pun dianggap sebagai amalan baik untuk memperluas pahala dan memperkuat ikatan persaudaraan.
Namun, pandangan ulama kontemporer seperti Ustadz Khalid Basalamah dan Ustadz Firanda Andirja menekankan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah mencontohkan perayaan khusus atau penetapan tanggal untuk Isra Miraj, melainkan fokus pada pembelajaran hikmah dan pengamalan ajarannya. Majelis Ulama Indonesia (MUI) sendiri melihat peringatan Isra Miraj sebagai kesempatan edukatif untuk mengambil pelajaran berharga dan mendorong kegiatan keagamaan yang bermanfaat seperti pengajian dan diskusi, bukan sebagai ritual wajib.
Pesan inti Isra Miraj, menurut Ustazah Nida Dwi Rahmawati, Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Surabaya, adalah bahwa salat adalah "hadiah istimewa dari Allah yang harus dijaga kualitasnya, bukan hanya kuantitasnya". Salat yang berkualitas, dibangun atas niat ikhlas, kekhusyukan, pemahaman bacaan, dan konsistensi waktu, secara fundamental mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar serta membentuk akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. Dr. H. Agung Nugroho, S.H., M.H., Anggota Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan, menegaskan bahwa disiplin dalam salat lima waktu ini berkorelasi erat dengan kedisiplinan diri secara umum, yang penting bagi kesuksesan hidup.
Secara teologis, Jurnal Penelitian Ilmiah Multidisiplin Vol. 9 No 3 Tahun 2025 menyebutkan bahwa Isra Miraj merupakan pengakuan Ilahi atas kenabian Muhammad SAW dan menegaskan wahyu sebagai dasar ajaran Islam. Peristiwa ini juga mengajarkan keseimbangan antara duniawi dan ukhrawi, sebagaimana pandangan peneliti dunia Islam Karen Armstrong. Ketua Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah, Kiai Haji Khairil Anwar, menjelaskan bahwa Isra melambangkan hubungan horizontal manusia dengan sesama dan alam semesta, sementara Miraj mewakili hubungan vertikal dengan Tuhan. Ini berarti, semakin kuat iman seseorang kepada Allah, semakin toleran dan menguatkan persatuan ia dalam keberagaman.
Implikasi jangka panjang dari pemaknaan Isra Miraj yang mendalam adalah terbentuknya kesadaran ibadah yang bukan sekadar ritual, melainkan kebutuhan spiritual yang membangun kedekatan dengan Allah, melatih disiplin, fokus, dan pengendalian diri pada generasi muda. Dr KH Multazam Ahmad MA, Dosen FBS Unnes dan Wasekjen Pusat Dewan, menambahkan bahwa kesalehan tidak cukup hanya ritual, melainkan juga harus berwujud kesalehan sosial, melalui kepedulian terhadap sesama dan keberpihakan pada kaum lemah. Dengan demikian, Isra Miraj menginspirasi umat untuk tidak hanya memperbaiki kualitas ibadah pribadi, tetapi juga meneguhkan komitmen sosial, mewujudkan Islam sebagai rahmat bagi semesta. Menag Nasaruddin Umar bahkan mengusung konsep "Ekoteologi" di tengah ujian bencana, melihat Isra Miraj sebagai momen "naik kelas" spiritual dan sosial melalui pelestarian alam.