Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Strategi Acara Isra Miraj di Masjid: Pedoman Memaksimalkan Hikmah dan Berkah

2026-01-18 | 08:31 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-18T01:31:37Z
Ruang Iklan

Strategi Acara Isra Miraj di Masjid: Pedoman Memaksimalkan Hikmah dan Berkah

Masyarakat Muslim di seluruh Indonesia akan memperingati Isra Miraj Nabi Muhammad SAW pada Jumat, 16 Januari 2026, yang bertepatan dengan 27 Rajab 1447 Hijriah, berdasarkan penetapan resmi Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama (Kemenag RI). Momentum spiritual ini, yang mengenang perjalanan agung Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan Mi'raj ke Sidratul Muntaha, menjadi ajang bagi masjid-masjid untuk menyusun serangkaian acara mendalam guna menguatkan keimanan dan kepedulian sosial.

Perayaan Isra Miraj tidak hanya berfokus pada narasi historis semata, tetapi juga menekankan implementasi nilai-nilai fundamentalnya dalam kehidupan sehari-hari, terutama perintah salat lima waktu yang diterima langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana dijelaskan oleh Dr. KH. Multazam Ahmad MA, Dosen FBS Unnes dan Wasekjen Pusat Dewan Masjid Indonesia, kesalehan tidak cukup dimaknai sebagai ketaatan ritual saja, melainkan harus berpadu dengan kesalehan sosial. Hal ini selaras dengan ajakan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang menyerukan agar peringatan Isra Miraj dijadikan momentum peningkatan kedisiplinan ibadah dan keimanan yang tercermin dalam perilaku sehari-hari, mengingat salat adalah sarana membentuk keteraturan hidup dan disiplin moral.

Masjid-masjid di berbagai daerah secara tradisional mengadakan pengajian, ceramah, pembacaan selawat, dan doa bersama sebagai inti acara Isra Miraj. Misalnya, di Masjid Al Falah Desa Wanasari, Kutai Timur, pada 12 Januari 2026, peringatan Isra Miraj 1447 H dibuka dengan tema “Menggali Kisah Nabi Muhammad SAW sebagai Inspirasi Generasi Masa Kini”, dengan narasumber Ust. Muhammad Adi Yusuf, M.Pd. Acara semacam ini, yang melibatkan tokoh masyarakat dan agama, bertujuan meningkatkan pemahaman ajaran Islam dan mempererat tali persaudaraan.

Susunan acara di masjid umumnya dimulai dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur'an, sambutan dari panitia atau tokoh setempat, dilanjutkan dengan tausiyah atau ceramah agama yang mengupas makna dan hikmah Isra Miraj, pembacaan sholawat, dan ditutup dengan doa bersama. Tema-tema yang relevan, seperti yang pernah dirujuk Kemenag, menekankan salat sebagai sarana perbaikan diri dan pondasi kehidupan, relevan untuk diterapkan di berbagai lingkungan. Imam Kusnin Ahmad, Ketua Takmir Masjid Al-Musthofa Udanawu Blitar, pada 16 Januari 2026, menyoroti bagaimana salat tidak hanya memberikan manfaat spiritual tetapi juga sosial, memperkuat rasa persatuan di tengah keberagaman.

Namun, peringatan Isra Miraj juga menghadapi tantangan dalam menjaga relevansinya di era modern. Seperti disampaikan Muballig Drs. H. Sukri Mondang, inti utama Isra Miraj adalah perintah shalat, memperlihatkan tanda kekuasaan Allah, serta menumbuhkan keimanan dan ketakwaan di tengah perkembangan zaman. Artinya, acara tidak boleh berhenti pada seremonial tahunan, melainkan harus mendorong muhasabah diri dan aksi nyata, seperti kegiatan sosial. Alfian Hidayatullah, Da'i Muda Muhammadiyah Surabaya dan Ketua Takmir Masjid Al Mukhlis Kenjeran, pada 16 Januari 2026, menekankan bahwa Isra Miraj bukan sekadar mukjizat perjalanan jauh, melainkan tentang keseimbangan hidup, antara kesalehan vertikal (hubungan dengan Tuhan) dan kesalehan horizontal (dampak di bumi).

Beberapa daerah bahkan memiliki tradisi unik. Yogyakarta misalnya, memiliki tradisi Rejeban Peksi Buraq yang melibatkan gunungan buah-buahan yang dibagikan kepada jemaah Masjid Gedhe Kauman setelah pengajian. Di Temanggung, warga Desa Wonoboyo merayakan Isra Miraj dengan tradisi Khatam Kitab Arjo, kitab berbahasa Jawa yang mengisahkan perjalanan Nabi Muhammad. Tradisi ini menunjukkan penghormatan terhadap ajaran Islam dalam konteks budaya lokal.

Wali Kota Palangka Raya, Fairid Naparin, pada 16 Januari 2026, juga menegaskan bahwa Isra Miraj adalah momentum untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah, keimanan, dan kepedulian sosial, serta menjadi penguat persatuan dan toleransi di tengah keberagaman. Peringatan ini, dengan demikian, bukan hanya sekadar kilas balik sejarah, melainkan sebuah refleksi berkelanjutan untuk memperkokoh fondasi spiritual dan moral umat di tengah dinamika sosial yang terus berkembang.